Bagaimana mengatasi dosa seksual?

Dosa melawan kemurnian dalam konteks pelanggaran seksual merupakan dosa yang mungkin sering dilakukan oleh manusia.

Apr 25, 2014

Dosa melawan kemurnian dalam konteks pelanggaran seksual merupakan dosa yang mungkin sering dilakukan oleh manusia. Beberapa pelanggaran terhadap kemurnian adalah: nafsu/ ketidakmurnian, masturbasi/ onani, pencabulan, pornografi, pelacuran, perkosaan, homoseksualiti (lih. KGK 2351-2357

Dalam sepuluh perintah Tuhan, Tuhan memberikan larangan kepada seseorang untuk menginginkan wanita yang bukan isterinya (perintah ke-9) mahupun untuk melakukan pencabulan (perintah ke-6). Yesus, menegaskan, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:28).

Rasul Paulus menuliskan bahawa Tuhan menghendaki pengudusan kita, agar kita menjauhi pencabulan (lih 1Tes 4:3).

Katekismus Gereja Katolik menggolongkan dosa ketidakmurnian – dalam hal ini pencabulan – menjadi salah satu dosa-dosa pokok, yang dapat mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain timbul (KGK 1866). Dalam kehidupan sehari-hari, dapat terjadi, orang yang sering berfikir tidak murni dapat terjerat pada dosa pornografi, kemudian disusul dengan pencabulan ataupun perzinaan, sehingga mempunyai pasangan di luar nikah. Akibat selanjutnya ia akan melibatkan keluarga, sehingga keluarga hancur berantakan, dan anak-anak juga terkena tempias perbuatan dosa itu. Itulah rangkaian dosa dan akibat yang mungkin timbul, yang disebabkan oleh dosa ketidakmurnian. Jadi, kita harus berhati-hati terhadap dosa ketidakmurnian ini.

Kalau jenis dosa ini tidak ditangani secara serius dan sesegera mungkin, maka seseorang dapat terjebak pada dosa yang sama ini, dan melakukannya terus secara berulang-ulang, sampai ia tidak lagi mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari jerat dosa ini. Secara beransur- ansur jiwanya menjadi terbiasa untuk melakukan dosa. Begitu juga jika ada kesempatan berbuat dosa datang, maka orang itu seperti mempunyai naluri untuk melakukan dosa tersebut secara automatik dan kehilangan kekuatan untuk berkata ‘tidak’ terhadap dosa. Dengan kata lain, orang tersebut menjadi hamba dosa.

Ada sekumpulan orang yang mungkin mengalami pengalaman sedemikian mencari-cari cara melepaskan diri dari dosa ketidakmurnian yang telah menjadi kebiasaan.

Ramai orang telah terjerat dalam pornografi, onani dan masturbasi, serta dosa ketidakmurnian yang lain, berniat untuk bertaubat, mengaku dosa, namun kemudian kembali lagi kepada dosa yang sama. Ada yang cuba mengikuti retret, berhasil untuk keluar dari dosa ini untuk sementara, kemudian terjatuh lagi setelah beberapa ketika. Ada kalanya semua usaha ini seperti sia-sia dan akhirnya berakhir pada keputusasaan. Pendek kata, kalau dosa ini telah mengakar dalam hati dan telah menjadi kebiasaan, maka sukar untuk dicabut sampai ke akar-akarnya. Apakah ada cara untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ini? Tentu saja ada, kerana Yesus sendiri menjanjikan “kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (lih. Yoh 8:32)

Menyedari kelemahan dan akibat dosa adalah langkah awal perbaikan Langkah pertama untuk melepaskan diri dari belenggu dosa ketidakmurniaan yang telah menjadi kebiasaan adalah berhadapan dengan kebenaran itu sendiri. Ini dimulakan dengan menyedari bahawa ada yang salah dalam diri kita, dan kita telah melakukan dosa.

Setelah Raja Daud berbuat dosa berzina dengan Batsyeba, maka dia mengakui dosanya dengan jujur, “Sebab aku sendiri sedar akan pelanggaranku, aku sentiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam keputusan- Mu, bersih dalam penghukuman- Mu” (Mzm 51:3-4). Kesedaran akan kebenaran ini menjadi langkah awal untuk memperoleh kembali kehidupan yang penuh rahmat.

Ada ramai orang yang telah jatuh ke dalam dosa ketidakmurnian kemudian membuat pembelaan dan menyalahkan segala hal, kecuali dirinya sendiri.

Ada yang mulai menyalahkan keluarganya yang kurang memberikan pendidikan iman, atau rakan-rakan yang mempengaruhi. Bahkan ada yang menyalahkan syaitan yang senantiasa menggodanya, sehingga sulit baginya untuk lepas daripada dosa ini.

Walaupun mudah untuk membuat segunung alasan, namun semua alasan tersebut tidak akan membantu orang yang ingin memperbaiki diri sehinggalah dia sendiri dapat mengatakan, “Ya, saya telah berbuat dosa dan saya telah berkata ya terhadap godaan.” Iblis dan orang-orang sekeliling kita dapat menggoda kita untuk berbuat dosa tetapi pada akhirnya dosa merupakan keputusan daripada kehendak kita, yang tidak menolak dosa namun justeru menyetujui dosa dan melakukannya secara sedar.

Dengan demikian, kalau kita berdosa, maka yang perlu disalahkan adalah diri kita sendiri, kerana sesungguhnya Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup untuk membantu kita agar dapat menolak dosa dan terus bertumbuh dalam kekudusan.-- Katolisitas

Total Comments:0

Name
Email
Comments