Belas kasihan melibatkan risiko, penderitaan

Karya belas kasihan bukan untuk meringankan hati nurani seseorang, tetapi merupakan tindakan untuk turut menderita dengan orang-orang yang menderita, kata Paus Fransiskus.

Jun 16, 2017

ROMA: Karya belas kasihan bukan untuk meringankan hati nurani seseorang, tetapi merupakan tindakan untuk turut menderita dengan orang-orang yang menderita, kata Paus Fransiskus.

Berbelaskasih kepada orang lain tidak hanya berbahagi rasa sakit tapi juga mengambil risiko untuk mereka, kata Sri Paus Fransiskus ketika memimpin Misa pagi di Domus Sanctae Marthae pada 5 Jun.

“Fikirkan di sini di Roma semasa zaman perang. Beberapa orang, dimulai dengan Pius XII, mengambil risiko untuk menyembunyikan orang Yahudi sehingga orang Yahudi itu tidak terbunuh, atau tidak dihantar ke kem maut! Mereka telah mempertaruhkan nyawa mereka! Inilah karya belas kasih sejati demi menyelamatkan nyawa orang-orang itu!” demikian kata Paus Fransiskus.

Homili Bapa Suci tertumpu kepada pembacaan pertama hari itu dari Kitab Tobit, yang menceritakan bagaimana penulisnya, salah seorang daripada orang Israel di pengasingan, berduka atas kematian seorang kerabat yang dibunuh dan menguburnya, di mana perbuatan itu dilarang pada saat itu Asyur

Sebuah karya belas kasihan, seperti yang dilakukan oleh Tobit, bukan hanya “perbuatan baik sehingga saya dapat menjadi lebih tenang, sehingga saya tidak ada beban,” tapi ini adalah cara untuk “bersimpati dengan rasa sakit orang lain,” kata Bapa Suci.

“Berbahagi dan bersimpati tidak dapat dipisahkan,” kata Sri Paus. “Seseorang yang tahu bagaimana berbahagi dan bersimpati dengan masalah orang lain adalah belas kasihan.”

Tobit tidak hanya mempertaruhkan nyawanya dalam melanggar hukum, dia juga mengalami cemuhan oleh rakan-rakan sesama orang Israel. Untuk melakukan pekerjaan belas kasihan, Uskup Roma itu menjelaskan, “bererti selalu menanggung beban kerana mungkin upaya kita sentiasa dicemuh oleh orang lain.”

Tetapi, Tuhan menanggung ketidaknyamanan bagi kita: Dia dipaku di kayu salib untuk memberi kita rahmat,” ujar Sri Paus.--CNS

Total Comments:0

Name
Email
Comments

Sunday Reflection

Twentieth Sunday of Ordinary Time: That woman is Ourselves

Mark calls her “a Greek” but Matthew uses the ancient name “Canaanite,” a reference to the original inhabitants of the Holy Land, who were conquered by the Israelites some twelve centuries before the time of Jesus. Matthew recognises that this encounter between the woman from the area of Tyre and Sidon and Jesus is about an outsider “wanting in.” So he heightens the drama by identifying her as a member of that group of pagans who were Israel’s first enemies (after the Egyptians, of course).