Dengarkanlah Dia ...keutamaan kita dalam kehidupan

Masa Pra-Paskah antara lain untuk mempersiapkan diri menyambut puncak iman kita, yaitu wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dengan harapan agar kita sungguh setia pada iman kita kepada Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati.

Feb 27, 2021

HARI MINGGU PRA-PASKAH II
TAHUN B
KEJADIAN 22:1-2.9A.10-13.15-18;
ROMA 8:31B-34; INJIL MARKUS 9:2-10

Masa Pra-Paskah antara lain untuk mempersiapkan diri menyambut puncak iman kita, yaitu wafat dan kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus, dengan harapan agar kita sungguh setia pada iman kita kepada Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati.

Beriman kepada wafat dan kebangkitan- Nya memang antara lain bererti kita harus setia menghayati kata-kata ketika menerima abu di hari Rabu Abu, iaitu suatu seruan "Bertobatlah dan percayalah pada Injil".

Bertobat bererti meninggalkan cara hidup dan cara bertindak yang tidak baik, tak bermoral atau tidak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, sedangkan percaya kepada Injil bererti senantiasa melaksanakan atau menghayati kehendak atau sabda-sabda Tuhan, antara lain tertulis di dalam Kitab Suci.

Bukankah kita sampai kini masih mempersoalkan hal itu, entah itu bererti menanyakan apakah saya sudah sungguh bertobat dan percaya pada Tuhan atau saya senantiasa berusaha untuk bertobat dan percaya pada Tuhan.

Dalam Injil Markus, Tuhan  menyatakan, "Inilah Anak yang Ku kasihi, dengarkanlah Dia" (Mrk 9:7)

Petikan ini adalah sabda Tuhan kepada para rasul, ketika mereka menyaksikan kemuliaan Yesus di bukit Tabor.

Pengalaman yang mempesona bagi para rasul, sehingga mereka berniat membuat sesuatu yang indah, iaitu khemah bagi Yesus dan para nabi.

Pengalaman yang demikian itu kiranya juga terjadi dalam diri kita masing-masing ketika dalam keadaan damai, gembira dan ceria, misalnya selesai retret atau rekoleksi, baru saja mengikrarkan kaul, saling berjanji menjadi suami-isteri, diterima sebagai pegawai atau siswa/mahasiswa baru, dsb.., dan dalam pengalaman yang demikian itu kita juga menjanjikan sesuatu yang luhur, mulia, indah dan baik.

Maka marilah kita merenung apakah kita setia melaksanakan apa yang kita janjikan tersebut atau setia ‘mendengarkan sabda Tuhan dan menghayatinya di dalam cara hidup dan cara bertindak’ setiap hari di mana pun dan kapan pun.

“Dengarkanlah Dia”, demikian  sabda Tuhan. Mendengar merupakan salah satu keutamaan penting di dalam kehidupan kita, apa yang kita dengarkan sangat dominan membentuk dan membina keperibadian kita. Selama masa Tobat atau Retret marilah kita berusaha, secara peribadi atau bersamasama, untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau dengan sungguh-sungguh merenungkan teks-teks kitab suci yang setiap hari. Setia menghayati atau melaksanakan pelbagai aturan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, memang tak akan terlepas dari aneka penderitaan, tantangan, hambatan atau masalah.

Penderitaan, cabaran, hambatan atau masalah yang lahir dari kesetiaan kita merupakan jalan ke arah atau menuju ke keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hendaknya jangan dihindari melainkan hadapi dengan rendah hati dan kerja keras bersama dengan bantuan rahmat Tuhan.

Kita dapat bercermin atau belajar dari Bonda Maria, Abraham dan Musa. Ketika menghadapi cubaan-cubaan yang berat tetapi  mereka tetap setia sebagai orangorang yang jujur, baik dan berbudi pekerti luhur, sehingga pelbagai percubaan dan penderitaan yang mereka alami menjadikan mereka semakin mulia, unggul dan berbudi pekerti luhur.

Sesungguhnya semua rintangan atau masalah dapat diatasi atau diselesaikan, untuk mencapai pemenuhan suatu cita-cita.

Kita semua memiliki cita-cita luhur dan mulia, iaitu keselamatan dan kebahagiaan jiwa kini dan selamanya, maka marilah dengan penuh keteguhan hati dan kepercayaan kita selesaikan aneka masalah dan hambatan yang ada di depan kita.

“Selagi kita memiliki kemahuan, kecekalan dan keteguhan hati, sebilah parang pun bila digosok terusmenerus pasti akan menjadi sebatang jarum! “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Tuhan? Tuhan, yang membenarkan mereka?

Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Tuhan, yang malah menjadi Pembela bagi kita” (Rm 8:33-34).

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma adalah baik untuk kita renungkan dan di atas ini kiranya baik kita renungkan dan hayati.

Masing-masing dari kita adalah orang-orang pilihan Tuhan (ingat, sadari dan hayati bahawa masingmasing dari kita adalah salah satu dari jutaan sperma yang telah terpilih oleh Tuhan untuk bersatu dengan sel telur, sehingga menjadi manusia sebagaimana adanya saat ini).  — imankatolik.

Total Comments:0

Name
Email
Comments