Fransiskus seru para Uskup terbuka pada pandangan baru

Fransiskus seru para Uskup terbuka pada pandangan baru

Oct 12, 2018

KOTA VATIKAN: Paus Fransiskus memulai sinode dengan ajakan agar setiap peserta berbicara dengan keberanian dan kejujuran kerana hanya dialog yang dapat membantu Gereja untuk bertumbuh. Prelatus itu memberitahu para Uskup yang akan menyampaikan ucapan pendek — yang disebut “celahan/intervention” - bahawa mereka harus terbuka dengan pandangan baru sepanjang dialog itu berlangsung.

Kesediaan untuk “mengubah keyakinan dan posisi kita,” katanya, adalah “tanda kematangan rohani.” Sinode ini dirancang untuk menjadi “latihan menentukan pilihan hidup, Kerasulan bukanlah slogan iklan, bukan teknik organisasi atau trend dari kepausan sebaliknya sikap batin yang berakar pada tindakan iman.

“Kerasulan yang didasarkan pada keyakinan bahawa Tuhan bekerja dalam sejarah dunia, dalam peristiwa kehidupan, pada orang yang kita temui dan berbicara kepada kita” tegas Fransiskus.

“Ini,” ujar Sri Paus, “memerlukan kemahuan untuk mendengra dan berdoa.” Maka atas sebab inilah mengapa Sri Paus menambah aturan bahawa setiap lima pidato akan ada jeda tiga minit untuk refleksi dan berdoa..

“Mendengarkan Roh, mendengarkan Tuhan dalam doa dan mendengarkan harapan dan impian anak muda adalah bahagian dari misi gereja,” kata Sri Paus. Proses persiapan untuk sinode “menyoroti gereja yang perlu mendengar, termasuk kepada orang-orang muda yang sering tidak berasa tidak difahami oleh Gereja,” atau berasa mereka “tidak diterima dan bahkan ditolak.”

Mendengar satu sama lain, terutama orang-orang muda dan uskup yang saling mendengar antara satu sama lain, adalah satu-satunya cara sinode dapat menjadi sarana yang bermanfaat untuk memimpin lebih ramai orang muda memperdalamkan iman atau demi memperkasa iman orangorang muda yang terlibat dalam kehidupan gereja.

Paus Fransiskus, yang diminta oleh beberapa uskup untuk menunda sinode kerana skandal salah laku seks di kalangan klerus, mengatakan dia tahu pada ketika ini, “ Gereja sarat dengan perjuangan, masalah, beban. Tetapi iman kita mengatakan bahawa, ‘ kairos '(saat yang tepat) di mana Tuhan datang untuk menemui kita untuk mengasihi kita dan memanggil kita untuk kepenuhan hidup.”

Tujuan sinode ini, kata Paus Fransiskus, bukan untuk menyiapkan dokumen - dokumen sinode, yang “hanya dibaca oleh segelintir orang dan dikritik oleh banyak orang” — tetapi untuk mengenal pasti “proposal pastoral konkrit” yang akan membantu dan menjangkau semua anggota gereja, membawa dan menyokong iman orang-orang muda.

Dengan kata lain, katanya, tujuannya adalah "menanam mimpi, menggerakkan nubuat dan visi, memungkinkan harapan untuk berkembang, inspirasi iman, membalut luka, menjalin hubungan persaudaraan, membangkitkan fajar harapan, saling belajar satu dengan yang lain dan mencipta sumber daya terang yang akan mencerahkan fikiran, hati yang hangat, memberi kekuatan kepada tangan kita dan mengilhami orang-orang muda — semua orang muda, tanpa ada yang dikecualikan — visi masa depan yang dipenuhi dengan sukacita Injil.

Sri Paus Fransiskus turut mengecam semangat klerikalisme yang adalah sebuah penyimpangan dan merupakan akar dari banyak kejahatan dalam gereja. “Kita harus dengan rendah hati meminta maaf untuk itu dan mewujudkan atau memastikan tragedi ini tidak berulang kembali.

“Sinode ini mempunyai peluang, tugas dan kewajipan untuk menjadi tanda sebuah Gereja yang benar-benar mendengar, yang membenarkan dirinya untuk dipersoal oleh pengalaman orang-orang yang dia jumpai, dan yang tidak selalu memiliki jawaban siap,” ujar Fransiskus.

“Gereja yang tidak mendengarkan menunjukkan dirinya tertutup kepada pembaharuan, tertutup kepada kejutan-kejutan daripada Tuhan an tidak boleh dipercayai, terutama bagi golongan muda yang seharusnya dijangkau dan didekati, bukan diabaikan.” — CNA/EWTN

Total Comments:0

Name
Email
Comments