Iblis bukan mitos

Kitab Suci tidak kekurangan kisah tentang kehadiran iblis atau roh jahat. Bahkan sejak awal Kitab Suci sudah menunjukkan hal itu, dalam kisah jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa

Sep 06, 2019

Soalan: Dalam Kitab Suci Yesus pernah dicubai Iblis, apakah iblis itu nyata atau mitos? Bagaimana pandangan Gereja mengenai iblis? — Chelsy Chen

Jawaban: Kitab Suci tidak kekurangan kisah tentang kehadiran iblis atau roh jahat. Bahkan sejak awal Kitab Suci sudah menunjukkan hal itu, dalam kisah jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa (lih Kej 3:1-24). Bahkan kita dapat pula membaca kisah Yesus digoda oleh iblis di padang gurun (lih Mat 4:1-11; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-13).

Pelbagai peristiwa pengusiran syaitan oleh Yesus terdapat pula dalam Kitab Suci. Bahkan Yesus pun pernah dituduh mengusir syaitan dengan kuasa penghulu syaitan (lih Mat 12:22-37; Mrk 3:20-30; Luk 11:14- 23). Saat mengajarkan doa Bapa Kami, Yesus mengajar kita untuk memohon agar tidak dibiarkan jatuh ke dalam godaan syaitan, dari segala yang jahat (lih Mat 6:13).

Semasa berdoa di Taman Getsemani, Yesus berdoa agar para murid jangan jatuh ke dalam godaan (lih Mat 26:41; Mrk 14:38; Luk 22:40). Pada saat Yudas mengkhianati Yesus, dikatakan bahawa iblis merasukinya (lih Luk 22:3; Yoh 13:2.27).

Dari paparan Kitab Suci kita dapat menyimpulkan bahawa keberadaan iblis adalah sesuatu yang nyata, malahan dikatakan Petrus, bagaikan singa yang berkeliling dan mengaum mencari mangsa (lih 1 Ptr 5:8), senantiasa mahu menggoda kita (lih 1 Kor7:5).

Oleh kerananya, syaitan harus kita lawan, jangan dibiarkan menguasai (lih Yak 4:7), bertahan untuk melawan tipu muslihatnya (lih Ef 6:11), sebab dia dapat menyamar sebagai malaikat terang (lih 2 Kor 11;14). Syaitan dan godaan darinya itu nyata, bukan mitos, maka kita harus senantiasa mewaspadai dan teguh kukuh melawannya.

Sejauh dapat ditelusuri, dalam dokumen Gereja salah satu yang pertama adalah surat Sri Paus Leo Agung Quam Laudabiliter (447) yang menyebut bahawa Tuhan tidak mungkin menciptakan yang jahat, namun ada ciptaan yang memilih menyangkal Tuhan, maka kemudian tidak memilih hidup dalam kebenaran, malahan memilih keadaan dalam keterhukuman akibat menolak Tuhan.

Mereka menjadi jahat kerana kesalahannya sendiri, kerana menolak dan menyangkal kebaikan yang berasal dari Tuhan, demikian dikatakan dalam Konsili Lateran IV (1215).

Dari sinilah kemudian akar daripada kejahatan tumbuh, sebab dia adalah bapa segala dusta (lih Yoh 8:44). Dia hendak menjadikan manusia mendahulukan dirinya sendiri, bukan Tuhan, sehingga mengabaikan Tuhan, menjadi seperti Tuhan (lih Kej 3:23).

Sri Paus Fransiskus dikenali sebagai sering berbicara untuk berwaspada dan berjaga-jaga terhadap roh jahat, tentang iblis. Prelatus itu sering menyebut perkara ini demi mengingatkan golongan mereka yang mengkhutbahkan gagasan yang melunturkan atau memudarkan keberadaan syaitan. Iblis ada dan nyata, maka jangan memandang kejahatan sekadar sebagai sakit mental belaka, demikian dikatakan dalam khutbahnya pada 14 Oktober 2013.

Keberadaan syaitan sudah diperlihatkan sejak awal Kitab Suci, demikian diingatkannya. Malahan dalam Misa pertamanya sebagai Sri Paus di hadapan para kardinal, 14 Mac 2013, Fransiskus mengingatkan kalau orang tidak mengimani Tuhan, dia membiarkan diri dikuasai oleh semangat duniawi roh jahat.

Iblis adalah musuh umat manusia, malahan musuh yang licik, demikian diingatkan oleh Sri Paus dalam homili pada 29 September 2014. Dia penggoda dan menggoda dengan licik, penuh tipu muslihat yang menyesatkan, ujarnya pada 3 Oktober 2015 di hadapan mereka yang bekerja di Vatikan. Maka ketika ditemubual oleh TV2000, Fransiskus mengingatkan agar kita jangan mencuba-cuba bernegoisasi dengan roh jahat, kerana kita akan jatuh dan kalah, sebab iblis itu cerdik, lebih cerdik daripada kita manusia.

Dengan mengatakan demikian, Gereja meyakini akan keberadaan iblis, ciptaan yang menentang Tuhan. Iblis itu ada dan nyata. Kecenderungan untuk merelatifkan keberadaannya, apalagi memandangnya sekadar sebagai mitos belaka, dapat menjadi suatu godaan tersendiri, sehingga kita memandang remeh akan dosa dan meremehkan kesalahan, ketidakmampuan kita untuk menjawab panggilan kasih Tuhan.

Kalau kemudian kita terjebak bahawa kesalahan itu sesuatu yang manusiawi, bukan dosa, maka akibatnya kita tidak akan membutuhkan penyelamatan. Kerananya, kesedaran akan penebusan dan keperluan akan Penebus tidak lagi akan sangat kita rasakan dan alami. — T. Krispurwana Cahyadi SJ, hidupkatolik.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments