Jangan lumpuh dan ‘lengah’ dalam melayani Tuhan

Menjadi pengikut Kristus adalah untuk menjadi pengikut yang setia dan sekaligus bijaksana. Namun dalam dunia kita masa kini, setia dan komited adalah sungguh sukar sekali.

Aug 09, 2019

HARI MINGGU BIASA KE-19
TAHUN C
KEBIJAKSANAAN 18:6-9
IBRANI 11:1-2,8-19
INJIL LUK.12:32-48

Dalam Injil, Yesus menyapa umat sebagai “kawanan kecil”. Pengikut Yesus memang kecil jumlahnya bila dibandingkan dengan kumpulankumpulan lain.

Orang-orang yang termasuk kawanan kecil dapat merasa takut bahkan merasa “minder”. Dalam Perjanjian Lama pun bangsa Israel merasa dirinya sebagai kawanan kecil.

Namun ternyata Yahwe mengalahkan lawan-lawan mereka dan melindungi serta menyelamatkan mereka. Itulah yang diungkapkan sebagai dasar harapan hidup umat Tuhan dalam Perjanjian Lama.

Dalam Perjanjian Baru, iaitu dalam surat kepada Orang Ibrani ditegaskan bahawa iman adalah landasan dari segala pengharapan. Tidak ada harapan, apabila tidak ada iman.

Di mana letak kekuatan iman? Iman sejati memungkinkan kita untuk tidak hanya berfikir secara manusiawi. Memang betapa maju pesat, banyak dan luar biasa perkembangan daya dan cara berfikir orang zaman kita secara rasional sekarang ini.

Namun tanpa mengurangi sedikit pun hasil positif yang dapat dicapai dengan pola fikir secara manusia melulu itu, manusia yang realistik itu sendiri mengalami dan mengakui keterbatasan daya fikir manusiawinya. Banyak hal yang memang tidak dapat diatasi melulu dengan daya fikir manusia. Mengapa dan bagaimana dapat terjadinya alam semesta, bagaimana terbentuk planet-planet? Bagaimana terciptanya benua-benua dengan begitu banyak bangsa, budaya, ekonomi, politik, agama? Mengapa ada kemajuan dan juga kemunduran, ada kekayaan dan kemiskinan, ada perdamaian dan kekerasan.

Tetapi di atas segalanya itu terutama timbullah pertanyaan mengapa Tuhan yang Mahakuasa dan Mahaagung memutuskan menyelamatkan umat manusia dengan mengutus Yesus Kristus menjadi Penyelamatnya melalui penderitaan dan kematian di Salib!

Ternyata memang diperlukan suatu cara atau pola fikir Tuhan. Nah, kita mengikuti pola fikir Tuhan itu melalui iman.

Hanya dengan iman, yang bukan kita peroleh dari penyelidikan ilmiah moden, melainkan daripada sabda Tuhan dalam Kitab Suci, kita dapat menyerahkan diri kepada Tuhan dan hidup dengan penuh keyakinan, walaupun seolah-olah menurut pandangan manusiawi tidak memberi kepastian. Orang beriman diajak untuk percaya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi.

Akhirnya dalam Injil Lukas hari ini ditegaskan, bahawa Tuhan memilih dan memberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Yesus berkat kepada murid-muridNya: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Sebab Bapamu telah berkenan memberi kamu KerajaanNya.”

Kerajaan sudah dijanjikan kepada kawanan kecil. Dalam Perjanjian Lama “kawanan kecil ini” disebut “sisa Israel”. Meskipun segenap bangsa Israellah yang dahulu disebut sebagai “bangsa terpilih”, namun akhirnya hanya “sisa Israel”, kawanan kecil yang sungguh menjadi bangsa terpilih.

Nasihat Yesus kepada kawanan kecil pada zaman-Nya itu berlaku juga bagi kita sekarang ini. Kepada kita, kaum Kristian, sebagai murid Yesus merupakan “kawanan kecil”. Kepada kita Yesus berseru: jangan takut!

Tetapi supaya tidak takut, kita harus siap sedia. Seperti kita alami sendiri, kita ini sering tidak sedia. Tidak sedia untuk panggilan masing-masing, tidak sedia untuk memikul tanggungjawab yang harus kita selenggarakan, bukan hanya dalam hidup sekarang ini, tetapi juga pada waktu kita dipanggil menghadap Tuhan.

Dalam Injil hari ini Yesus juga mengatakan, “Juallah segala milikmu dan berilah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di syurga tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri, dan yang tidak dirosak ngengat. Kerana di mana harta mu berada, di situ juga hati mu berada.”

Terdapat pelbagai bentuk kesiapsiagaan di mana kita sentiasa menjaga kehidupan kita. Apa yang ada dalam kesiap siagaan itu ialah kesetiaan dan komitmen.

Menjadi pengikut Kristus adalah untuk menjadi pengikut yang setia dan sekaligus bijaksana. Namun dalam dunia kita masa kini, setia dan komited adalah sungguh sukar sekali.

Masyarakat moden lebih menyanjung sikap “lepas-bebas, segera, di sini dan sekarang” dan tidak mahu terikat dengan sesuatu masa depan yang tidak diketahui. Apatah lagi terdapat banyak sekali tawaran-tawaran di dunia yang mengasyikkan dan melalaikan sehingga kita lupa hidup kita ini adalah sementara. Bila-bila masa kita dipanggil Tuhan.

Rumusan alkitabiah pesan Yesus itu harus ditafisrkan secara murni dan benar.

Tanpa merugikan kepentingan diri sendiri mahupun keluarga bahkan masyarakat, kita semua menurut kemampuan dan keadaan kita masing-masing, menurut Sri Paus Fransiskus kita harus memberanikan untuk mengembangkan solidariti dan semangat berbahagi, sehingga tumbuhlah semangat belas kasihan di antara semua orang sebagai sesama kawanan.

Di samping itu adalah dituntut daripada kita semua sikap waspada dan siap sedia dalam menanti kedatangan Kristus yang dapat terjadi bila-bila pun juga di luar dugaan. Beranikah kita semua menjadi hamba yang setia, waspada dan selalu siap siaga? — Msgr. FX. Hadisumarta O.Carm, imankatolik.org 

Total Comments:0

Name
Email
Comments