Kapel dalam rumah, adakah dibenarkan?

Yang sangat dianjurkan Gereja adalah membangun dan memupuk hidup doa, bukan sekadar membuat ruang atau tempat doa. Memiliki ruang doa namun tidak dipa

Aug 09, 2019

Soalan: Baru-baru ini, saya mengunjungi sebuah keluarga dan mereka mempunyai kapel dalam rumah mereka. Apakah kapel dalam rumah ini dibenarkan atau digalakkan oleh Gereja?— Edna

Jawaban: Dalam gereja-gereja kuno di sisi kiri dan kanan gereja ada kapelkapel kecil (capella), yang dahulu biasanya digunakan untuk Misa peribadi.

Selain itu di luar bangunan gereja, ada juga kapel-kapel kecil, untuk Misa bagi kumpulan-kumpulan kecil. Di biara-biara biasa juga terdapat kapel, untuk perayaan Ekaristi bagi komuniti kongregasi itu atau juga tempat untuk doa bersama.

Pada zaman kuno juga dapat ditemui rumah-rumah keluarga yang memiliki kapel seperti itu. Akan tetapi ada juga komuniti religius dan imam yang membezakan antara kapel dan ruang doa. Ruang doa lebih dipakai untuk berdoa, sama ada secara peribadi mahupun berdoa bersama, sedangkan kapel lebih dipakai untuk perayaan Ekaristi.

Maka di rumah sakit, penjara, tenpat pemakaman ataupun sekolah-sekolah sering ada kapel (Oratorium), dan mempunyai pastor tertentu yang melayaninya (Chaplain).

Dari penjelasan ini, kapel lebih dimaksudkan sebagai ruang ibadah, di mana ada altar dan tabernakel, tempat di mana perayaan Ekaristi dirayakan. Sedangkan ruang doa lebih merupakan ruang untuk berdoa, di mana biasanya terdapat patung Yesus dan para kudus, namun di situ tidak ditahtakan Sakramen Mahakudus. Ruang atau kamar ini biasanya ditemui di pusat membeli belah misalnya di Filipina dan markas PBB.

Menjadi pertanyaan, yang dimaksudkan terdapat rumah keluarga yang mempunyai kapel atau rumah keluarga yang memiliki ruang doa. Saya lebih suka menyebut bahawa dalam rumah-rumah keluarga tersebut terdapat ruang doa.

Bila dimaksudkan bahawa dalam keluarga-keluarga tersebut memiliki kapel, dengan altar dan tabernakel, kemudian muncul pertanyaan, apakah perayaan Ekaristi rutin dirayakan di sana.

Di kompleks tempat saya tinggal terdapat lapan buah kapel. Di dalam kapel yang ada tabernakel selalu dirayakan Ekaristi secara berkala, dan sakramen Mahakudus dalam tabernakel tersebut “diganti”. Namun, ada kapel yang tanpa tabernakel, kerana merayakan Ekaristi secara berkala.

Yang sudah lazim ditemui dalam rumah-rumah keluarga yang besar, ialah ruang doa. Ada juga yang mampu membina kapel tetapi tidak merayakan Ekaristi secara berkala, di mana altar yang dipasang adalah altar devosi, dengan pelbagai patung atau benda-benda suci. Tempat itu lebih dimaksudkan sebagai tempat berdoa, baik peribadi mahupun bersama, malahan menjadi tempat di mana keluarga tersebut berkumpul di hadapan Tuhan, untuk memuji dan menyembahnya.

Oleh itu, bukanlah sesuatu yang baru bahawa ada keluarga-keluarga memiliki ruang doa. Tidak ada anjuran Gereja akan hal itu, sebab membuat ruang doa tidak memerlukan izin rasmi dari pimpinan Gereja, jika ruang itu digunakan sebagai ruang devosi bagi doa pribadi mahupun bersama. Akan tetapi jika kapel itu terdapat altar dan tabernakel, apakah tujuannya?

Persoalan ini bukanlah mendapat anjuuran Gereja atau bukan. Namun apakah ruang-ruang doa tersebut dipakai secara rutin untuk berdoa atau hanya sekadar aksesori rumah dalam keluarga? Membangun ruang doa, tetapi tidak dipakai untuk berdoa, pasti hanya sia-sia. Yang jauh lebih penting daripada memiliki ruang doa adalah apakah hidup doa dibangun secara rutin dan dihidupi secara subur, baik oleh peribadi mahupun bersama.

Yang sangat dianjurkan Gereja adalah membangun dan memupuk hidup doa, bukan sekadar membuat ruang atau tempat doa. Memiliki ruang doa namun tidak dipakai untuk berdoa dan tidak menjadikan hidup doa semakin subur, hanya menjadikan ruang doa itu tidak bererti. — Telephorus Krispurwana Cahyadi SJ, hidupkatolik.com 

Total Comments:0

Name
Email
Comments