Keliru dengan kalimat doa Bapa Kami

Di dalam Injil Matius tentang Doa Bapa Kami diberi penjelasan tambahan sebagai berikut, “Kerana jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Syurga juga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”

Feb 09, 2020

Soalan: Dalam Doa Bapa Kami terdapat kalimat, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dalam kalimat ini, ia seolah-olah minta Tuhan yang mencontohi tindakan pengampunan kita. Bukankah kita yang seharusnya mencontohi pengampunan  Tuhan?  -- Gracia

Jawaban: Di dalam Injil Matius tentang Doa Bapa Kami diberi penjelasan tambahan sebagai berikut, “Kerana jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Syurga juga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Penyataan tersebut tidak menunjukkan, bahawa Tuhan belajar mengampuni daripada umat manusia, melainkan sebagai tuntutan sikap, bahawa rahmat pengampunan itu sungguh dapat dan layak diterima kalau umat manusia menghidupinya, sebab memang Tuhan lebih menghendaki kita menjadi pelaksana kehendak Tuhan, sebagai tanda peribadi yang bijaksana (lih Mat 7:24), memiliki dasar dalam dan kukuh dalam hidupnya  (lih Luk 6:46-49). Tidak menghairankanlah kalau Yesus sendiri menyebut ibu dan saudara-saudarinya adalah mereka yang mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan (lih Mat 12:50; Mrk 3:35; Luk 8:21).

Oleh itu, jika kita sendiri tidak berbelaskasih dan tidak mengampuni satu sama lain, maka pengampunan Tuhan pun tidak akan sampai kepada hati kita. Kalau kita menolak mengampuni sesama kita, dengan demikian hati kita menutup diri dan kekerasan hati itu menjadikan kita menutup diri pula daripada kerahiman Ilahi. Itulah inti pendasarannya.

Katekismus Gereja Katolik menyebut bahawa pengampunan adalah salah satu puncak buah doa Kristiani, di mana  hanya hati yang sesuai dengan belas kasihan Tuhan dapat menerima anugerah doa di dalam dirinya. Kisah Injil tentang pengampunan menggambarkan hal tersebut, “Bukankah engkau pun harus mengampuni kawanmu seperti aku telah mengampuni engkau? … Maka BapaKu yang di Syurga akan berbuat demikian juga terhadap kamu apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat 18:33.35).

Kita memang meneladan kerahiman Tuhan, yang dalam belaskasihan-Nya menyatakan pengampunan-Nya kepada umat manusia. Kerana itu, langkah meneladan Tuhan tersebut nyata kalau kita sendiri menghidupi kerahiman tersebut, dengan kerelaan hati kita untuk juga mengampuni.

Pengampunan adalah salah satu tanda keselamatan, mengampuni kerananya adalah buah dari rahmat keselamatan tersebut. Kerahiman Tuhan tidak dapat sungguh meresap di hati sebelum kita sedia mengampuni. Malahan saat berdoa pun, mempersembahkan persembahan di altar Tuhan, kita diminta untuk berdamai terlebih dahulu, sebelum meneruskan mempersembahkan korban di hadapan Tuhan (lih Mat 5:23-24).

Tuhan tidak menerima korban orang yang tidak rela berdamai, dan menjauhkan mereka dari altar, supaya berdamai terlebih dahulu, supaya melalui permohonannya yang cintai damai itu mereka juga menemukan perdamaian dari Tuhan, kata Bapa Gereja, Siprianus.

Belas kasih pengampunan, yang dihidupi dengan semangat mengampuni itu, berbuah pula dalam tindakan kasih, seperti dalam kisah Yesus yang diurapi  oleh perempuan berdosa (lih Luk 7:3650). Tindakan kasih kepada sesama adalah tanda nyata dari diterima dan dihidupinya rahmat pengampunan, sebab memang pengampunan itu sendiri adalah tindakan kasih.

Kesatuan dan persaudaraan hidup merupakan wujud dari kesediaan untuk mahu saling mengampuni, demikian Yohanes Paulus II dalam dokumen tentang rekonsiliasi dan pengampunan. Pengampunan merupakan langkah membangun hidup, menuju ke masa depan, agar kehidupan bersama kita menjadi hidup bersama orang yang telah diperdamaikan di dalam Kristus.

Kita berdoa mohon diampuni dosadosa kita. Namun permohonan tersebut memuat ajakan dan tuntutan, agar kita pun menghidupi apa yang kita mohonkan: pengampunan. Kalau kita memohon kepada Tuhan, namun tidak mahu menghidupi rahmat belaskasih pengampunan Tuhan, maka sebenarnya kita tidak siap dan tidak sedia menerima rahmat yang kita mohonkan dalam doa Bapa Kami tersebut. Kita hidupi rahmat itu, agar rahmat kita mohonkan itu semakin hidup dan berbuah dalam diri kita. -- T. Krispurwana Cahyadi, SJ, hidupkatolik

Total Comments:0

Name
Email
Comments