Kemiskinan disebabkan oleh keserakahan dan ketidakadilan

Kemiskinan disebabkan oleh keserakahan dan ketidakadilan

Nov 09, 2018

VATIKAN: Bagaimana mungkin Tuhan mahu mendengar jeritan orang miskin, pada masa yang sama, begitu ramai orang dekat dengan orang-orang menderita itu tetapi tidak mahu mendengar atau tidak mahu peduli,” tanya Sri Paus Fransiskus.

Umat harus melakukan “hening kembali ke hati nurani yang dalam untuk memahami apakah kita benar-benar mampu mendengarkan jeritan orang miskin,” kata Sri Paus dalam pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia.

Peringatan Sri Paus ini menjadi momen refleksi disertai tindakan konkrit memberi orang Kristian kesempatan untuk mengikuti teladan Kristus dan secara konkrit pula berbahagi momen cinta, harapan, dan rasa hormat bersama dengan orang-orang yang memerlukan di tengahtengah masyarakat, kata Sri Paus dalam pesan 13 Jun, Pesta St. Anthonius Padua, pelindung orang miskin. Hari Orang Miskin Sedunia diperingati setiap tahun pada Minggu Biasa ke-33 yang akan dirayakan pada 18 November tahun ini dan berfokus pada Mazmur 34, “Orang miskin ini berseru dan Tuhan mendengar.”

“Kita dapat bertanya pada diri sendiri, bagaimana tangisan ini, yang menjangkau sampai ke Tuhan, tidak mampu menembus telinga kita dan membuat kita tidak peduli dan tidak tergerak hati?” Sri Paus bertanya lebih lanjut dalam pesannya.

Untuk menyedari penderitaan sesama dan tahu cara terbaik untuk menanggapi dengan cinta, orang harus belajar untuk diam dan mendengarkan, kata Sri Paus.

“Jika kita banyak berbicara sendiri, kita tidak akan dapat mendengarnya,” katanya. Itulah yang sering terjadi ketika inisiatif yang penting dan diperlukan dilakukan lebih sebagai cara untuk menyenangkan diri sendiri “daripada benar-benar mengakui jeritan orang miskin,” katanya.

“Kita terus terperangkap dalam budaya yang memaksa kita untuk melihat ke cermin” dan terlalu “memanjakan diri. Orang-orang seperti itu percaya bahawa tindakan altruisme mereka sudah cukup tanpa harus merasakan empati atau keperluan untuk berkorban atau "membahayakan" diri mereka secara langsung.

Tidak ada yang menginginkan dirinya hidup miskin atau banyak bentuknya, termasuk mengabaikan, meminggirkan, penganiayaan dan ketidakadilan, kata Sri Paus.

Kemiskinan “disebabkan oleh keegoisan, kesombongan, keserakahan dan ketidakadilan. Ini adalah kejahatan setua kemanusiaan, tetapi juga dosa-dosa di mana banyak warga tak berdosa terperangkap, membawa konsekuensi pada tingkat sosial, yang dramatis,” katanya.

"Jawaban Tuhan untuk orang miskin merupakan intervensi keselamatan untuk menyembuhkan luka jiwa dan raga, memulihkan keadilan dan membantu memulai hidup baru dengan bermartabat. Jawaban Tuhan juga merupakan daya tarik agar mereka yang percaya padanya dapat melakukan hal yang sama," tambahnya. — CNS

Total Comments:0

Name
Email
Comments