Kerasulan telinga: Dengar sebelum bicara

Kerasulan telinga: Dengar sebelum bicara

Nov 09, 2018

VATIKAN: Tiga langkah dasar dalam perjalanan iman merupakan antara yang diutarakan oleh Sri Paus Fransiskus semasa merayakan penutupan Sidang Umum Biasa Sinode Para Uskup ke-15 pada 29 Oktober lalu.

“Yesus memperagakan kepada muridmuridnya tiga “langkah dasar dalam perjalanan iman,” kata Paus Fransiskus dalam homilinya, yang memetik kisah dari Injil tentang Yesus menyembuhkan Bartimeus yang buta.

Yesus bereaksi terhadap permintaan Bartimeus dengan cara berbeza daripara para murid, kata Paus Fransisku. Meskipun jelas apa yang diinginkan seorang buta, Yesus “pergi kepadanya;membiarkan dia berbicara.”

Selanjutnya, Yesus mengambil waktu untuk mendengarkan. Paus Fransiskus melanjutkan: “Inilah langkah pertama dalam membantu perjalanan iman: mendengarkan. Itulah kerasulan telinga: mendengarkan sebelum bicara.”

Murid-murid yang mengikuti rencana mereka sendiri bukan rencana Tuhan melihat orang-orang seperti Bartimeus sebagai gangguan, kata Paus Fransiskus. Dia menyebut hal itu sebagai risiko yang harus terus-menerus diperhatikan. Murid-murid yang benar-benar anakanak Bapa mendekati orang yang sama dengan cara berbeza.

“Mereka mendengarkan dengan sabar dan penuh kasih, sama seperti yang dilakukan Tuhan kepada kita dan kepada doa-doa kita, betapa pun doa-doa itu mungkin sudah berulang-ulang kali diucapkan. Tuhan tidak pernah lelah; dia selalu senang kalau kita mencari-Nya.

Semoga kita juga meminta karunia hati yang mendengarkan.”

Atas nama semua orang dewasa, Paus Fransiskus kemudian meminta pengampunan dari orang-orang muda. “Maafkan kami jika kami sering tidak mendengar kalian, jika, bukannya membuka hati kami, kami memenuhi telinga kalian.”

Langkah kedua dalam perjalanan iman ini adalah menjadi sesama bagi orang yang meminta bantuan. Yesus tidak mendelegasikan tugas kepada orang lain, kata Paus Fransiskus. Yesus secara peribadi datang kepada Bartimeus dan menanyakan apa yang dia inginkan sehingga jawabannya sesuai dengan keperluan Bartimeus.

Beginilah cara Tuhan bekerja, kata Paus. “Lihatlah pada salib, dan ingat bahawa Tuhan menjadi sesama saya dalam dosa dan kematian. Dia menjadi sesama saya: semuanya dimulai dari sana. Dan ketika, kerana cinta akan Dia, kita juga menjadi sesama, kita menjadi pembawa kehidupan baru.”

Kerana mematuhi Yesus, para murid mendekati Bartimeus. Mereka tidak melempar koin, tetapi mereka mengatakan kepadanya kata-kata yang Yesus katakan sebelum kisah ini: “Kuatkan hatimu,” dan “berdirilah.”

“Dalam Injil, Yesus sendiri berkata, “Bangunlah,” dan Dia menyembuhkan roh dan tubuh. Yesus sendiri meminta, seraya megubah kehidupan orang-orang yang mengikutinya, membantu membangkitkan orang-orang yang jatuh, membawa terang Tuhan ke dalam kegelapan hidup.”

Akhir dari kisah Injil itu mengejutkan, kata Sri Paus mengakhiri homili. Tanpa pengakuan iman atau pekerjaan yang baik, Bartimeus mendengar Yesus berkata, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Keperluannya akan keselamatan adalah awal dari imannya, kata Paus Fransiskus.

“Iman yang menyelamatkan Bartimeus yang tidak ada gambaran jelas tentang Tuhan, tetapi dia sedang mencari-cari siapa itu Tuhan, percaya Dia boleh menyembuhkan dan rindu untuk berjumpa dengan-Nya. Iman berkaitan dengan perjumpaan bukan teori. Dalam perjumpaan, Yesus hadir di situ; dalam perjumpaan, hati Gereja berdetak. Lalu, yang akan terbukti efektif bukanlah pewartaan kita, sebaliknya kesaksian hidup kita!” — VIS

Total Comments:0

Name
Email
Comments