Mampukah kita menjadi terang dan garam di tengah-tengah masyarakat moden?

Sejak dahulu garam merupakan keperluan penting untuk hidup manusia. Garam memberi rasa lazat. Memberi daya untuk memelihara lama atau mengawetkan sesuatu.

Feb 09, 2020

HARI MINGGU BIASA V
TAHUN  A
YesaYa 58:7-10 1Korintus 2:1-5 injil Matius 5:13-16

Sejak dahulu garam merupakan keperluan penting untuk hidup manusia. Garam memberi rasa lazat. Memberi daya untuk memelihara lama atau mengawetkan sesuatu. Bahkan garam menimbulkan rasa haus akan sesuatu yang lain.  Kenyataan sehari-hari inilah yang dipakai Yesus untuk menyampaikan syarat, yang mutlak diperlukan untuk meneruskan Khabar Gembira, iaitu Injil-Nya, sebagai santapan makanan yang lazat kepada masyarakat.

Dalam Perjanjian Lama, garam dipakai secara simbolik untuk tujuan keagamaan. Misalnya: "Dalam setiap persembahanmu yang berupa korban sajian, haruslah kau bubuhi garam, janganlah kau lalaikan garam perjanjian Tuhanmu dari korban sajianmu, berserta segala persembahanmu haruslah kauper-sembahkan garam. (Im 4:23)".

Bahkan juga dipakai istilah "perjanjian garam (Bil 18:19)". Perjanjian garam ini bererti suatu hubungan atau relasi yang tetap, dan makan garam bersama orang lain itu bererti memasuki ikatan setia satu sama lain. Paulus menegaskan: "Hendaklah kata-katamu  senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:6)". Mengapa demikian? Jawabannya: "Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu akan mengasinkannya? (Mrk 9:50)".

Apa maknanya jika garam menjadi hambar atau kehilangan rasa masinnya? Bagi kita sekarang ini, garam selalu tetap masin dan tidak hambar! Pada zaman Yesus garam tidak dibuat dan dimurnikan dari unsur-unsur campuran seperti garam kita sekarang ini. Kerana tercampur dengan unsur-unsur lain, rasa garam itu dapat berubah dan dapat kehilangan rasa khususnya. Nah, sifat garam inilah yang dipilih Yesus untuk menggambarkan sifat setiap orang, jika mahu menjadi murid-Nya haruslah tetap setia sebagai murid Yesus!

Singkatnya, setiap orang yang ingin menjadi murid Yesus sejati harus tahu bila dan bagaimana ia harus mengubah sikap dasar hidupnya, iaitu apabila "hidangan masakan ajaran Yesus" dirasakan sebagai hambar dan tidak sesuai lagi dengan seleranya sendiri.  Seseorang harus tahu dan mahu berusaha mempertahankan dan memupuk kembali keadaan hidupnya menurut iman yang benar, apabila arah hidupnya makin terasa bertentangan dengan "rasa" injili atau alkitabiah yang  autentik.

Dia harus setia akan terhadap janjinya kepada Tuhan melalui baptisnya dan dalam penerimaan sakramen-sakramen Gereja-Nya. Cukup tegas Paulus mengatakan, bahawa murid Yesus sejati adalah orang yang tahu "berbicara" (ertinya: berfikir, bersikap, berkata dan bertindak) sesuai dengan nasihatnya: "Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang (Kol 4:6)".

Selanjutnya, kita harus tahu, apakah hubungan antara dua pesan Yesus "Kamu adalah garam dunia" dan "Kamu adalah terang dunia?" Pertama-tama kerana Yesus sendiri adalah Terang Dunia! Kerana itu murid-murid-Nya harus juga menjadi terang dunia. Terang mempunyai makna khusus, iaitu harus menghilangkan kegelapan!  Ertinya, menghilangkan kejahatan dan dosa, yang timbul dari kebodohan, ketidaktahuan, prasangka dan kepentingan diri sendiri melulu. Sedangkan Yesus sendiri adalah terang, sebab wajah-Nya bersinar dan menunjukkan diri seperti adaNya, iaitu sebagai segala-galanya yang baik dan benar.

Nah, itulah pula yang harus menjadi teladan bagi para murid Yesus sebagai terang dunia. Itulah yang juga dikatakan Yesaya: "Terang mu akan merekah laksana fajar (Yes 58:8; lih. ay. 7-10)".

Yang dilakukan Yesus dan apa yang juga harus dilakukan muridmurid-Nya ialah apa yang dikatakan Yesaya: "Membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah (Yes 58:7)", "melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian (ay.8)", "memuaskan hati  orang yang tertindas" (ay.10). Apabila itulah yang dilakukan murid-murid Yesus, maka terjadilah apa yang dahulu dikatakan oleh Yesaya : "Terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapan-mu akan seperti rembang tengah hari (Yes 58"10)"

Demikianlah Injil Matius hari ini memperingatkan kita secara sederhana namun tegas dan jelas akan keadaan dan tugas kita sebagai umat yang telah dibaptis sebagai murid Yesus sejati. Bukan sebagai orang yang bersikap acuh tak acuh dan pasif sebagai orang beriman di kalangan keluarga dan masyarakat.

Kita harus tahu dan mahu mewartakan dan melaksanakan Injil kepada semua orang dengan kata dan perbuatan sebagai garam mahupun terang dunia. -- imankatolik.org

Total Comments:0

Name
Email
Comments