Memberi makanan kepada yang “lapar”

Melihat itu Yesus tergeraklah hati-Nya terhadap mereka sebagai manusia seutuhnya, baik kebutuhan badan mahupun jiwa mereka! Yesus memberikan sabda untuk jiwa mereka, dan kepada badan mereka. Dia memberikan penyembuhan penyakit dan makanan.

Jul 31, 2020

HARI MINGGU BIASA KE-18 TAHUN
Yesaya 55:1-3  Roma 8:35.37-39 injil matius 14:13-21

Setelah mendengar, bahawa Yohanes Pembaptis dibunuh oleh Herodes, Yesus pergi mengasingkan diri naik perahu, untuk mencari tempat yang sunyi. Ternyata umat mengikuti Dia melalui jalan darat. Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak yang sangat besar jumlahnya.

Melihat itu Yesus tergeraklah hati-Nya terhadap mereka sebagai manusia seutuhnya, baik kebutuhan badan mahupun jiwa mereka! Yesus memberikan sabda untuk jiwa mereka, dan kepada badan mereka. Dia memberikan penyembuhan penyakit dan makanan.

Mendengar berita Injil yang disampaikan kepada kita tentang Yesus yang menolong keperluan  orang-orang sezaman-Nya, kita bertanya mengapa sekarang ini  Dia tidak melakukannya?

Bukankah sekarang pun masih ada puluhan juta orang yang menderita kelaparan atau belum dapat hidup secukupnya secara wajar?

Ternyata ketika menghadapi keadaan orang-orang yang berkekurangan, Yesus tidak langsung memperlihatkan kemampuanNya mengadakan mukjizat, sehingga tiba-tiba tersedialah roti dan ikan untuk dimakan.

Dia meminta dahulu kepada murid-murid-Nya apa yang mereka  miliki dan dapat mereka lakukan. Mereka diminta untuk berbahagi apa yang mereka miliki. Ternyata mereka hanya menemui lima roti dan dua ikan! Tetapi dengan bahan makanan yang begitu terbatas, mereka dapat memberikan makanan sampai kenyang, bahkan ada kelebihannya.

Nah, sekarang pada zaman kita pun Yesus berbuat hal yang sama.

Dia meminta kita dahulu  untuk berbahagi apa yang kita miliki dan kita peroleh dari bumi kita ini. Bumi kita ini mampu menyediakan bahan makanan, yang jauh lebih dari cukup untuk mencukupi keperluan ratusan juta jiwa manusia lebih banyak lagi dari pada  yang sekarang hidup di dunia ini.

Maka pertanyaannya ialah: beranikah kita menyalahkan Tuhan, bahawa Dia tidak menyediakan makanan yang cukup bagi orang- orang yang berkekurangan, padahal kita secara sedar atau tidak sedar, mensia-siakan atau hanya menyimpan,  bahkan membuang begitu banyak apa yang sisa atau kelebihan.

Hal itu dilakukan, mungkin kerana menurut perhitungan apa yang ada dianggap terlalu banyak dan tidak diperlukan, atau dengan perhitungan dagang iaitu, jangan sampai kerana banyaknya barang yang ter sedia akan menurunlah harganya? – Menghadapi keadaan serupa itu apakah sebenanya yang harus kita lakukan  sebagai orang Kristian, sebagai murid-murid Kristus sejati, menurut ajaran dan teladan-Nya?

Secara singkat: kita harus menghayati solidariti. Iaitu,  kita semua harus bersedia berbagi. Mengadakan pembahagian secara lebih adil. Pelaksanaan pesan Yesus untuk berbahagi  dengan sesama memang tidak mudah. Ada negara-negara yang lebih mementingkan, membuat, membeli dan memiliki senjata untuk perang, sementara itu membiarkan rakyatnya lapar dan miskin. Ada ahli-ahli ekonomi yang lebih mementingkan ekonomi makro, seolah-olah tidak ada ekonomi mikro.

Ada negara-negara yang kaya raya  potensi alamnya, tetapi banyak rakyatnya hidup miskin. Tanggungjawab atas keadaan itu dipegang oleh suatu pemerintahan, di mana banyak pejabat dan penduduknya  kaya, tetapi sangat miskin daya fikirannya dan keras serta kering hati nuraninya terhadap keperluan rakyat jelata,  dan mereka itu  lebih memikirkan kekayaan dan kepentingannya sendiri. 

Dalam Injilnya tentang perbanyakan roti yang kita renungkan, Yohanes menyebut  seorang kanak kanak, yang hanya  mempunyai lima roti dan dua ikan. Ibaratnya, kita ini adalah seperti si anak itu. Tetapi dengan bahan makanan yang begitu terbatas itu kita mahu dan rela berbahagi dengan begitu banyak orang yang membutuhkannya.

Rasa solidariti terhadap sesama, itulah pesan Yesus kepada kita dalam Injil hari ini, seperti ditunjukkan oleh Yesus sendiri, yang “tergerak hati-Nya oleh belas kasihan” (ay.14) dan yang secara  spontan dialami oleh si anak, yang masih lurus dan tulus hatinya terhadap keperluan orang lain.

Injil hari ini juga menyampaikan suatu pesan lain yang tidak kurang pentingnya.  Dalam Injil tertulis: “Setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada muridmurid-Nya”.

Perbanyakan roti dan ikan men ingatkan kita akan perbanyakan roti lain, iaitu tubuh Kristus dalam Ekaristi. Kerana itu dalam Gereja sering terdapat lukisan tentang Ekaristi berupa gambaran suatu keranjang berisi roti dan dua ikan di sebelahnya.

Akhirnya di samping itu para imam dan para pewarta sabda juga memperbanyak roti kepada umat atau para pendengar, iaitu roti sabda Tuhan. Mereka ini memecahmecahkan roti sabda Tuhan untuk orang banyak. – Apakah tugas kita semua selanjutnya?

“Mengumpulkan potonganpotongan roti yang sisa” dan meneruskannya kepada orang-orang, yang tidak ikut hadir dalam perjamuan. Ertinya,  segalanya yang telah diberikan oleh Kristus, baik untuk keperluan jiwa mahupun raga manusia, harus diteruskan kepada semua orang. –– Msgr. FX. Hadisumarta O.Carm, imankatolik.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments