Mengaku Kristian tetapi hidup menyembah berhala

Mengaku Kristian tetapi hidup menyembah berhala

Dec 07, 2018

VATIKAN: Semasa memimpin Misa di Casa Santa Marta, 29 November 2018, Paus Fransiskus memalingkan pemikiran pada akhir dunia berdasarkan bacaan hari itu dari Kitab Wahyu, yang menggambarkan kehancuran Babel, simbol keduniawian, dan memetik petikan dari Injil Lukas 21:20-28, ketika Yesus menceritakan tentang kehancuran Yerusalem, kota suci.

Pada hari penghakiman, Babel akan dihancurkan dengan seruan kemenangan yang hebat, kata Sri Paus. Pelacur besar akan jatuh, ujar Sangti Papa kerana dikutuk oleh Tuhan, dan pelacur itu akan menunjukkan kebenarannya iaitu dia adalah “Sarang bagi iblis, kandang bagi setiap roh yang tidak bersih.”

Sri Paus mengatakan, korupsi akan terbongkar di sebalik luaran kecantikannya yang luar biasa dan pestapestanya akan terungkap sebagai kebahagiaan palsu.

Suara para penyanyi, pemain kecapi, peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi dalammu. Tidak akan ada pesta yang lebih indah Pengrajin seni tidak akan ditemukan lagi dalammu; karena engkau bukan kota kerja tetapi korupsi.

Suara batu kilangan tidak akan terdengar lagi dalammu; tidak ada cahaya lampu yang akan terlihat dalammu lagi. Kota mungkin terang, tapi akan tanpa cahaya, tidak bercahaya. Penduduknya adalah masyarakat korup ¨suara pengantin wanita dan pengantin pria tidak akan pernah terdengar lagi dalammu.

Ada banyak pasangan, banyak orang, tetapi tidak akan ada lagi cinta. Kehancuran ini dimulai dari dalam dan berakhir ketika Tuhan berkata: “Cukup!” Dan akan datang suatu hari ketika Tuhan berkata: Cukup dengan penampilan dunia ini. Inilah krisis masyarakat yang angkuh, terlalu percaya diri, diktator, dan berakhir dengan cara ini.

Sri Paus kemudian beralih pada nasib Yerusalem. Kota itu akan melihat kehancurannya, kata Sangi Papa, dalam jenis korupsi lain, korupsi yang datang dari ketidaksetiaan kepada cinta; kota itu tidak dapat mengenali cinta Tuhan di dalam Putera- Nya. Kota suci akan diinjak-injak oleh orang-orang kafir dan dihukum oleh Tuhan, kerana kota itu membuka pintu hatinya untuk orang-orang kafir.

Penyembahan berhala dapat terjadi dalam kasus kehidupan Kristian kita. Apakah kita hidup sebagai orang Kristian? Sesungguhnya hidup kita dalam penyembahan berhala jika kita tergoda dengan “kehidupan-kehidupan Babel dan Yerusalem”. Keduaduaya mencari sintesis yang tidak dapat dilakukan. Dan keduanya dikutuk.

Apakah Anda seorang Kristian? Maka hiduplah seperti seorang Kristian. Air dan minyak tidak tercampur. Air dan minyak adalah berbeza. Masyarakat kontradiktif yang mengaku beragama Kristian tetapi hidup seperti penyembah berhala akan berakhir.

Kembali pada dua bacaan pada hari itu, Sri Paus mengatakan, setelah kedua-dua kota itu dikutuk, suara Tuhan akan terdengar: Keselamatan setelah kehancuran. Dan Malaikat berkata: Datanglah: Berbahagialah orang-orang yang diundang ke perjamuan kahwin Anak Domba. Pesta besar; pesta yang benar, katanya.

Menghadapi tragedi kehidupan, kita dipanggil untuk melihat ke cakerawala, kerana kita telah ditebus dan Tuhan akan datang menyelamatkan kita. Ini mengajar kita untuk menjalani cobaan dunia, bukan berkompromi dengan keduniawian atau penyembahan berhala yang membawa kehancuran kita, tetapi dengan harapan, dengan memisahkan diri kita dari rayuan duniawi dan penyembahan berhala ini; dengan melihat ke cakerawala dan berharap dalam Kristus Tuhan. Harapan adalah kekuatan kita untuk bergerak maju. Tetapi kita harus memintanya daripada Roh Kudus.

Pada akhir homilinya, Sri Paus mengajak kita berfikir tentang orang Babilonia zaman kita dan banyak kerajaan kuat abad terakhir yang telah jatuh. Kota-kota besar saat ini akan juga berakhir, kata Sri Paus, dan begitu juga hidup kita, jika kita terus pada jalan menuju penyembahan berhala. yang tinggal hanyalah mereka yang berharap akan Tuhan.

Bukalah hati kita dengan harapan dan jauhkan diri kita dari penyembahan berhala. — VIS

Total Comments:0

Name
Email
Comments