Menyentuh mereka yang sakit sama seperti membawa Yesus dalam dakapanmu

Penyakit kusta merupakan penyakit yang mengerikan dan sangat menakutkan bagi umat, malah dalam Kitab Suci terbukti ia amat ditakuti oleh ramai orang.

Feb 09, 2018

HARI MINGGU BIASA 6
TAHUN B
IMAMAT.13;1-2.45-46
1 KORINTUS 10:31-11:1
INJIL MARKUS 1:40-45
Penyakit kusta merupakan penyakit yang mengerikan dan sangat menakutkan bagi umat, malah dalam Kitab Suci terbukti ia amat ditakuti oleh ramai orang. Musa dalam Kitab Imamat memberi keterangan dan perintah Tuhan dalam menghadapi kusta dalam tulisan dua Bab 13 dan 14, yang sangat panjang! Sebab hanya Tuhan yang dapat mengalahkan kusta, demikianlah keyakinannya.

Pada zaman Yesus, orang yang sakit kusta terpaksa harus hidup di luar lingkungan masyarakat. Terpisah dari keluarga dan teman-teman, dan dengan demikian dijauhkan dari setiap hubungan antara sesama. Misalnya dalam Im.13:45-46 tertulis: “Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai, dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkhemahan itulah tempat kediamannya”.

Demikianlah orang sakit kusta harus hidup dalam pembuangan, harus memutuskan semua hubungan dengan masyarakat. Penyakit dan pengasingan dari masyarakat itu menghancurkan kehidupan orang sakit kusta. Kita dapat bertanya: manakah yang lebih buruk, pengasingan sosial diri daripada hubungan masyarakat atau penyakit kusta yang memakan segenap kulit dan sarafnya?

Dewasa ini, sungguh bersyukurlah kepada Tuhan yang mahakasih, bahawa berkat keahlian di bidang kedoktoran, masalah penyakit kusta dapat dikatakan telah diatasi. Tetapi isi pesan yang disampaikan Injil Markus hari ini kepada kita tetap aktual dan sangat relevan. Sekarang ini penyakit kusta badani atau jasmani memang belum lenyap seluruhnya, namun pada umumnya sudah dapat diatasi.

Tuhan juga menganugerahkan kita tokoh-tokoh yang menyediakan diri untuk ikut menolong orang-orang yang menghadapi dan menderita kusta. Pertama ialah St. Damianus (Joseph De Veuster), di Molokai di Kepulauan Hawai yang lahir tahun 1840 di Belgium. Tahun 1873 beliau mulai terjun bekerja menolong kaum kusta. Beliau sendiri tahun 1885 terkena penyakit kusta, dan wafat April 1889 sebagai korban pelayanan kasih kepada sesama. Tahun 2009 Paus Benediktus XVI mengumumkan imam itu menjadi Santo Damianus.

Tokoh kedua yang sebagai penolong orang-orang kusta juga menjadi korban kusta ialah Sr. Marianne Cope (1838-1918), yang sebagai Pemimpin sebuah Kongregasi Sister di Amerika Syarikat pergi ke Molokai, daerah Hawai, bagi melaksanakan undangan untuk melayani kaum penderita kusta.

Beliau bekerja sama dengan Father Damianus, dan tidak pernah meninggalkan tempat pelayanan kusta itu. Penduduk di daerah kepulauan dari pelbagai agama sangat menghargai dan menghormati Fr Damian dan Sr. Maianne itu, yang tanpa lelah berusaha menyembuhkan jiwa dan raga para penderita sakit kusta.

Tidak dilupakan juga, kita amat mengenang akan Ibu Teresa dari Kalkuta (1910-1997), yang tidak pernah ragu-ragu dan takut melihat dan meraba wajah Yesus, yang dijumpainya dalam diri rakyat paling miskin di India. Ibu Teresa menulis: “Kepenuhan hati kita terungkap dalam perbuatan kita. Bagaimana aku menghadapi penderita kusta, orang yang akan mati, orang-orang yang tak punya rumah.

Kerapkali lebih sukar melayani orang-orang di jalan daripada di rumah melayani orang yang akan meninggal, sebab mereka ini penuh damai sambil menunggu, mereka siap pergi kepada Tuhan!

Kamu dapat meraba orang sakit, penderita kusta dan percayalah tubuh Kristuslah yang kamu raba. Memang jauh lebih sukar apabila orang-orang yang dihadapi adalah orang mabuk atau yang mengaku dirinya Yesus yang tampil secara tersembunyi. Betapa harus bersih dan penuh kasih tangan kita untuk berbelas kasih kepada mereka semua itu! Kita harus sungguh murni dalam hati untuk dapat melihat Yesus hadir di dalam semua orang yang secara rohaniah sangat miskin itu.

Kerana itu, semakin buruk dan tidak tampak gambaran Tuhan dalam setiap peribadi, harus semakin besar dan kuatlah iman untuk melihat wajah Yesus dalam diri peribadi itu, yang harus kita layani dengan penuh kasih.

Memang kini kita jarang menjumpai penderita kusta lahiriah. Namun kini kita berhadapan dengan kusta dalam aneka bentuk lain, yang akan menghancurkan peribadi manusia, akan menjauhkannya dari masyarakat, mematikan semangat dan harapannya. Orang-orang ini menderita kusta manusiawi-rohani. Mereka ibaratnya menjadi “mayatmayat yang hidup”. Dunia ini menjadi kuburan atau makam, di mana dirasakan ada penghinaan, penderitaan, kemiskinan, kesedihan, tekanan, musnahnya segala harapan. Dunia gelap tanpa sinar! Benarkah demikian?

Apabila berfikir tentang kusta jasmani mahupun rohani, janganlah kita takut. Dunia kita ini bukanlah kuburan, melainkan tempat kita harus hidup bersama. Tetapi untuk dapat hidup bersama dengan baik, sihat dan selamat, kita harus juga berani menyingkirkan segala penyakit, baik bagi diri kita sendiri mahupun terhadap sesama.

Penyakit rohani kita, khususnya terhadap sesama akan hilang, apabila kita tahu dan mahu menjumpai Yesus dalam diri sesama kita. Makin besar penyakit kita, justeru harus makin besarlah iman, harapan dan kasih kita kepada Kristus.--Msgr. F.X. Hadisumarta O.Carm

Total Comments:0

Name
Email
Comments