Penyair muda ajak belia bangun jadi agen damai

Media di Amerika Syarikat setuju: Amanda Gorman yang telah mencuri perhatian ramai orang semasa pelantikan Presiden Joe Biden dengan puisinya. Pada usia 22 tahun, perempuan itu menjadi penyair termuda yang tampil dalam upacara pelantikan presiden di Amerika Serikat.

Feb 20, 2021

Media di Amerika Syarikat setuju: Amanda Gorman yang telah mencuri perhatian ramai orang semasa pelantikan Presiden Joe Biden dengan puisinya. Pada usia 22 tahun, perempuan itu menjadi penyair termuda yang tampil dalam upacara pelantikan presiden di Amerika Serikat.

Dengan “The Hill We Climb,” orang muda Katolik Afrika-Amerika itu menggerakkan Amerika dan dunia dengan penampilannya.

Amanda membuat mimpi seorang manusia “yang sembuh” menjadi nyata, mimpi yang menemukan harapan dalam penderitaan tetapi tidak sudi membiarkan konflik dan perpecahan menang.

Diwawancara oleh media Vatikan dan Osservatore Romano ini, Amanda memikirkan tentang kekuatan puisi sebagai alat damaian pada saat yang penuh polarisasi.

Dia menekankan pentingnya berinvestasi dalam pendidikan sebagai cara untuk mengubah dunia dan memberikan masa depan lebih baik kepada generasi muda.

Ditanya apakah puisi dapat membantu menyembuhkan luka yang membelah dunia? Amanda menjawab, ya.

Katanya, puisi adalah bahasa rekonsiliasi. Puisi sering mengingatkan tentang diri kita yang terbaik dan nilai-nilai bersama.

Warisan itulah yang benar-benar disukainya semasa menulis The Hill We Climb, yang pada dasarnya bertanya pada diri sendiri, “Apa yang dapat puisi ini lakukan, di sini dan sekarang, yang tak dapat dilaku kan prosa?”

Ada kekuatan khusus dalam puisi untuk menguduskan, memurnikan, dan memperbaiki, bahkan di tengah-tengah perselisihan.

Puisi ada kalanya dikaitkan dengan elit intelektual atau sesuatu yang hanya untuk orang dewasa.

Ditanya apakah yang beliau akan katakan kepada orang muda yang terinspirasi oleh puisi beliau dan menghargai usia mudanya, Amanda agak kesal kerana  sering kali puisi diajarkan di sekolah seolah-olah hanya menjadi arena elit intelektual yang tua, kulit putih dan cenderung kepada kaum lelaki padahal  puisi adalah bahasa rakyat.

“Saya akan mengatakan kepada orang muda lain bahawa puisi itu hidup dan selalu berubah, dan bentuk seni itu adalah milik kita semua, bukan milik kelompok terpilih.

Kami perlu suara anda, kami perlu cerita anda, jadi jangan takut untuk mengambil pena.”

Malala, Greta Thunberg, sekarang Amanda Gorman. Media Vatikan mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, ramai wanita muda muncul sebagai pemimpin gerakan yang mencabar kekuatan bumi. “Apakah menurut Anda ini perubahan yang langgeng?”

Amanda menjawab: “Saya kira kita sedang melihat para pemimpin perempuan  muda mendapatkan panggung global kerana itu merupakan fenomena global yang lebih besar: orang muda, terutama perempuan muda, di seluruh dunia bangkit dan mengambil tempat mereka dalam sejarah.

Untuk setiap Amanda, ada banyak lagi yang seperti saya. Saya mungkin unik, tetapi saya sama sekali tidak sendirian. Dunia sedang digoncang dan diubah oleh generasi berikutnya, dan inilah saatnya kita mendengarkan mereka.

“Sebagai seorang wanita muda, anda mempunyai kesukaran berbicara yang dapat anda atasi, dan hari ini dunia mengagumi anda kerana kefasihan anda.  Menurut anda, seberapa penting pendidikan untuk mengubah dunia kita?” tanya media Vatikan.

“Pendidikan,” ujar Amanda, “ adalah segalanya. Saya puteri seorang guru, jadi saya selalu menganggap serius pendidikan saya. Saya mengerti di usia muda bahawa pengetahuan adalah kekuatan. Bagi orang terpinggir, ini dapat menjadi salah satu instrumen terpenting di kotak peralatan kami.

Untuk mengubah dunia, kita harus mempersoalkannya , harus memeriksanya; kita harus melihat seluruh bentangan sejarah dan melihat bagaimana kaitannya dengan masa kini.

"Saya yakin lebih banyak lagi gerakan sosial yang hebat akan muncul!" katanya. — media vatikan

Total Comments:0

Name
Email
Comments