Pesan Sri Paus Fransiskus sempena Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 54, 24 Mei 2020

Saya ingin mengkhususkan pesan tahun ini pada tema “Cerita”, kerana saya yakin, supaya tidak tersesat, kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik: cerita yang membangun, bukan yang menghancurkan; cerita yang membantu untuk menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama.

May 23, 2020

                 Pesan Sri Paus Fransiskus sempena Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 54, 24 Mei 2020

Supaya engkau dapat Menceritakan Kepada Anak Cucu mu (Kel 10:2)

Hidup Menjadi Cerita
Saya ingin mengkhususkan pesan tahun ini pada tema “Cerita”, kerana saya yakin, supaya tidak tersesat, kita perlu menghirup kebenaran dari cerita-cerita yang baik: cerita yang membangun, bukan yang menghancurkan; cerita yang membantu untuk menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak  maju bersama.

Di tengah-tengah hiruk-pikuk suara dan pesan membingungkan yang mengelilingi kita, kita memerlukan  cerita manusiawi, yang berbicara tentang diri kita sendiri dan segala keindahan di sekitar kita.

Sebuah cerita yang mampu memandang dunia dan peristiwa-peristi wa yang terjadi dengan penuh kelembutan, dan yang dapat  menceritakan bahawa kita adalah bahagian dari sebuah permaidani yang hidup dan saling terhubung.

Sebuah cerita yang dapat mengungkapkan jalinan benang yang menghubungkan kita satu sama lain. -- Sri Paus Fransiskus

1. Menenun cerita
Manusia adalah makhluk pencerita. Sejak kecil kita mempunyai “rasa lapar” akan cerita sebagaimana kita lapar akan makanan. Sama ada  cerita berbentuk dongeng, novel, filem, lagu, mahupun berita; cerita yang mempengaruhi kehidupan kita, bahkan tanpa kita sedari. Kita sering memutuskan apa yang benar atau apa yang salah berdasarkan karakter/tokohtokoh dan cerita- cerita yang terakam dalam diri kita. Cerita-cerita tersebut membekas dan mempengaruhi keyakinan dan perilaku kita. Cerita-cerita itu dapat pula membantu kita memahami dan mengetahui siapa diri kita sesungguhnya.

Kita tidak hanya menenun pakaian, tetapi juga menenun cerita: sesungguhnya, kemampuan manusiawi untuk “menenun” (Latin: texere) tidak hanya mengacu pada kata “tekstil”, tetapi juga “teks”. Pelbagai cerita dari setiap masa memiliki sebuah “mesin tenun”umum: struktur yang meliputi figura “para pahlawan”, bahkan pahlawan dalam kehidupan sehari-hari dalam menghadapi situasi-situasi sukar,  melawan kejahatan yang didorong oleh sebuah kekuatan yang membuat mereka berani, iaitu  kekuatan cinta kasih. Dengan membenamkan diri kita dalam cerita-cerita tersebut, kita dapat menemukan kembali motivasi-motivasi kewiraan untuk menghadapi pelbagai tantangan dalam hidup.

2. Tidak semua cerita adalah baik
Jika kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Tuhan “ (bdk. Kej 3:4). Godaan ular ini menyisipkan sebuah simpul yang sulit dilepaskan dalam alur sejarah.

“Jika kamu memiliki, kamu akan menjadi, kamu akan mendapatkan…”. Inilah pesan yang terus dibisikkan sampai hari ini oleh orang-orang yang menggunakan storytelling untuk tujuan pemanfaatan (Eksploitasi-red) Ada begitu banyak cerita yang meyakinkan kita bahawa untuk berbahagia kita harus terus menerus mendapatkan, memiliki dan mengonsumsi. Bahkan kita mungkin tidak menyedari betapa kita kerap menjadi rakus dalam membicarakan hal buruk dan bergosip atau berapa banyak kekerasan dan dusta yang kita konsumsi.

Pelbagai platform komunikasi memproduksi cerita-cerita destruktif dan provokatif yang mengikis dan menghancurkan benang-benang yang rapuh dalam kehidupan bersama. Kita memerlukan keberanian untuk menolak cerita yang palsu dan jahat. Kita memerlukan kesabaran dan penegasan rohani untuk menemukan kembali cerita-cerita yang membantu kita untuk tidak kehilangan benang di antara banyaknya permasalahan sekarang ini; cerita yang mengungkapkan kebenaran tentang siapa diri kita sesungguhnya, juga dalam kepahlawanan  yang diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada era di mana pemalsuan menjadi semakin canggih, bahkan mencapai tingkat eksponensial (seperti rekayasa materi digital), kita memerlukan  kebijaksanaan untuk menerima dan menciptakan cerita-cerita yang indah, benar dan baik. Kita memerlukan keberanian untuk menolak cerita yang palsu dan jahat.

Kita memerlukan kesabaran dan penegasan rohani untuk menemukan kembali cerita-cerita yang membantu kita untuk tidak kehilangan benang di antara banyaknya permasalahan sekarang ini; cerita yang mengungkapkan kebenaran tentang siapa diri kita sesungguhnya, juga dalam kepahlawanan yang diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

3. Cerita dari segala cerita
Kitab Suci adalah cerita dari segala cerita. Betapa banyaknya peristiwa, bangsa dan peribadi yang dikisahkan kepada kita! Hal ini menunjukkan kepada kita bahawa sejak awal, Tuhan  adalah sang pencipta dan sekaligus narator.

Judul dari Pesan tahun ini diambil dari Kitab Keluaran, sebuah kisah mendasar alkitabiah yang melihat Tuhan  campur tangan dalam cerita umat-Nya. Ketika anak-anak  Israel yang diperhamba berseru kepada-Nya, Tuhan  mendengar dan memperhatikan mereka” (Kel 2: 24-25). Ingatan Tuhan  membawa pembebasan dari penindasan, yang datang melalui pelbagai tanda dan keajaiban.

Dan pada titik inilah Tuhan memberikan kepada Musa makna dari semua tanda-tanda itu: “Dan supaya engkau dapat menceriterakan kepada anak cucumu tanda-tanda  mukjizat mana yang telah Kulakukan di antara mereka, supaya kamu mengetahui, bahawa Akulah Tuhan!” (Kel 10:2).

Pengalaman Keluaran mengajarkan kepada kita bahawa pengetahuan tentang Tuhan  diteruskan dari generasi ke generasi dengan menceritakan kisah bagaimana Ia terus membuat diri-Nya hadir. Tuhan  kehidupan dikomunikasikan dengan menceritakan kehidupan.

4. Sebuah cerita yang diperbaharui
Cerita tentang Kristus bukanlah sebuah warisan masa lalu; melainkan cerita kita sendiri yang selalu aktual. Cerita ini menunjukkan kepada kita bahawa Tuhan  memberi perhatian mendalam kepada manusia, kedagingan kita, dan sejarah kita, sampai Dia sendiri menjadi manusia, menjadi daging dan menjadi sejarah.

Hal itu juga menunjukkan kepada kita bahawa tidak ada cerita manusia yang tidak signifikan atau tidak bernilai. Sesudah Tuhan  menjadi Cerita, dalam erti tertentu, setiap cerita manusia adalah cerita ilahi. Dalam cerita setiap orang,  Bapa melihat kembali cerita tentang Putera-Nya yang turun ke bumi. Setiap cerita manusia memiliki martabat yang luar biasa. Kerana itu, kemanusiaan layak mendapatkan cerita-cerita luhur, yang keluhurannya  sungguh mempesona seperti yang telah diangkat oleh Yesus.

Kalian – sebagaimana ditulis oleh Santo Paulus – adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Tuhan  yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, iaitu  di dalam di hati manusia” (2  Kor 3:3. Sesungguhnya, mengingat (re-cordare) bererti membawa hati (Lat. cor), “menulis” di hati.

Berkat karya Roh Kudus, setiap cerita, bahkan cerita yang paling terlupakan, juga cerita yang tampaknya ditulis pada garis yang paling bengkok sekalipun, dapat menjadi inspirasi dan dapat dilahirkan kembali seperti sebuah karya agung; menjadi pelengkap Injil.

5. Sebuah cerita yang memperbaharui kita
Cerita kita sendiri menjadi bahagian  dari setiap cerita agung. Ketika kita membaca Kitab Suci, kisah-kisah orang-orang kudus, dan juga narasi-narasi yang telah mampu membaca jiwa manusia dan mengungkapkan keindahannya, Roh Kudus memiliki kebebasan untuk menulis di dalam hati kita, memperbaharui dalam diri kita ingatan tentang siapa diri kita di mata Tuhan.

Bercerita kepada Tuhan bererti masuk ke dalam tatapan cintaNya yang berbelas-kasih kepada kita dan orang lain. Kita dapat  menceritakan kepada-Nya kisahkisah yang kita jalani, membawa orang-orang dan mempercayakan berbagai situasi dalam kehidupan kita.

Marilah kita meminta bantuan kepada Sang Bonda, yang telah mengetahui cara melepaskan ikatan simpul-simpul kehidupan dengan kekuatan cinta yang lembut:

O Maria, perempuan dan Bonda,
engkau telah menenun Sabda
ilahi di dalam rahim-Mu, engkau
telah menceritakan karya Tuhan
yang luar biasa di sepanjang
hidupmu.

Dengarkanlah ceritacerita
kami, simpanlah dalam
hatimu dan jadikanlah milikmu
sendiri, juga cerita-cerita
yang tidak seorang pun mahu mendengarkannya.

Ajarilah kami untuk mengenal kembali
benangbenang baik yang memandu jalan cerita.

Lihatlah kumpulan simpul-simpul
kusut dalam hidup kami yang
melumpuhkan ingatan kami.

Dengan tanganmu yang
halus, setiap benang kusut dapat dilepaskan.

O Wanita yang penuh Roh, Ibu
yang penuh kepercayaan, berikanlah
juga kami inspirasi.

Bantulah kami untuk membangun
cerita-cerita perdamaian, cerita-cerita
yang mengarah menuju masa depan.

Dan tunjukkanlah kepada kami
jalan untuk menghidupinya bersama.

Roma, di Basilika
Santo Yohanes Lateran, 24 Januari 2020,
Peringatan Santo Fransiskus dari Sales Paus Fransiskus 


Total Comments:0

Name
Email
Comments