Pra-Paskah eksodus dari perhambaan kepada pembebasan

Semasa Gereja memulai masa Pra-Paskah, Sri Paus Fransiskus merayakan Misa Rabu Abu, dengan pemberkatan dan pengenaan abu di Basilika Santo Petrus, 17 Februari.

Feb 20, 2021

VATIKAN: Semasa Gereja memulai masa Pra-Paskah, Sri Paus Fransiskus merayakan Misa Rabu Abu, dengan pemberkatan dan pengenaan abu di Basilika Santo Petrus, 17 Februari.

Dalam homilinya, Bapa Suci merenungkan Pra-Paskah sebagai perjalanan pulang kepada Tuhan dan sebagai kesempatan untuk memperdalam cinta kepada saudara dan saudari kita.

'Tuhan," kata Sri Paus, "berseru kepada hati kita dan kepada seluruh keberadaan kita, dan mengajak kita datang kepada-Nya. “Inilah waktu untuk mempertimbangkan kembali jalan yang kita ambil."

"Untuk menemukan jalan yang menuntun kita pulang dan menemu kan kembali hubungan kita yang mendalam dengan Tuhan, yang menjadi sandaran segalanya.”

Bapa Suci mendesak umat Kristian untuk mengevaluasi arah tujuan hidup kita dan seberapa teguh kita menjalani jalan menuju Tuhan. “Perjalanan Pra-Paskah adalah eksodus dari perhambaan menuju kebebasan,” kata Sangti Papa.

Semasa kita maju, kita akan merasa tergoda untuk kembali pada kebiasaan dan ilusi lama, tetapi kita dapat menemui kembali jalan dengan melihat pada Sabda Tuhan, tidak peduli berapa kali kita tersandung.

Langkah pertama Pra-Paskah, ujar Sri Paus, adalah perlu kembali kepada Bapa, dengan menerima pengampunan Tuhan dalam Sakramen Pen gakuan. “Pengampunan Bapa yang selalu membuat kita kembali berdiri,” kata Sri Paus.

Selanjutnya, kata Bapa Suci, kita perlu kembali kepada Yesus. Seperti penderita kusta yang kembali berterima kasih kepada-Nya, kita juga “perlu kesembuhan dari Yesus. Kita perlu tunjukkan luka-luka kita kepada-Nya dan berkata, ‘Yesus, aku di hadapan-Mu, dengan dosaku, dengan kesedihanku. Engkaulah doktorku. Engkau dapat membebaskan aku. Sembuhkanlah hatiku’.”

Kemudian, kata Uskup Roma itu, kita diundang kembali kepada Roh Kudus. Abu yang ditaburkan di kepala, mengingatkan bahawa kita ini debu.

“Tetapi di atas debu kita ini, Tuhan  menghembuskan Roh kehidupanNya.”

Selanjutnya Sri Paus menyatakan, perjalanan pulang kepada Tuhan hanya mungkin kerana Dia “pertama berjalan kepada kita.” Kerana Yesus menerima dosa dan kematian kita,  “maka perjalanan kita adalah membiarkan Dia memegang tangan kita.”

Sahutan kita atas ajakan Tuhan, kata Sri Paus, memerlukan rekonsiliasi sepenuh hati, “dengan perbuatan dan praktik yang mengungkapkannya.” — media Vatikan

Total Comments:0

Name
Email
Comments