Pra-Paskah ini, imbas karya Tuhan dalam hidup kita

Homili Paus Fransiskus dalam Misa pagi di Casa Santa Marta, Vatikan, 7 Mac, berfokus pada tiga ungkapan kunci dalam Bacaan Pertama hari itu, Ul. 30:15-20.

Mar 15, 2019

VATIKAN: Homili Paus Fransiskus dalam Misa pagi di Casa Santa Marta, Vatikan, 7 Mac, berfokus pada tiga ungkapan kunci dalam Bacaan Pertama hari itu, Ul. 30:15-20.

Untuk mempersiapkan mereka memasuki Tanah Terjanji, Musa memberi umat Israel cabaran yang juga merupakan pilihan antara hidup dan mati. “Itulah seruan bagi kebebasan kita,” jelas Sri Paus, seraya menumpukan kepada tiga kunci ungkapan digunakan Musa: “jika hatimu berpaling”, “jika engkau tidak mahu mendengar”, dan “jika engkau mahu disesatkan untuk sujud menyembah dan beribadah kepada tuhan-tuhan lagi.”

Menurut Sri Paus, kata kunci pertama, “Jika hatimu berpaling” ... maka kita tidak berjalan di jalan yang benar, kita kehilangan arah dan pedoman lalu menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

“Apabila hati berpaling daripada Tuhan,” kata Sri Paus, “maka kita akan terbawa oleh tuhantuhan lain sehingga menjadi penyembah berhala. Tetapi, sering kali kita tidak mampu mendengar, kata Bapa Suci. Ramai orang “tuli dalam jiwa” – dan “kita juga, sering menjadi tuli dalam jiwa, tidak mendengar Tuhan.”

Inilah bahaya yang kita hadapi sepanjang jalan “menuju tanah yang dijanjikan kepada kita: tanah perjumpaan dengan Kristus yang bangkit.” Pra-Paskah, kata Sri Paus, “membantu kita menempuh jalan ini.”

Kata kedua, “tidak mendengarkan Tuhan” – dan janji-janji-Nya — bererti kita tdak mengingat Tuhan. Jika tidak tidak mengingat “tentang hal-hal besar yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita, yang Dia lakukan dalam Gereja, dalam umat-Nya,” maka kita terbiasa jalan sendiri, dengan kekuatan sendiri, dengan kepercayaan sendiri.

Oleh itu, Sangti Papa mengajak umat agar memaknai musim Pra-Paskah ini dengan memohon “rahmat ingatan.”

Menurut Sri Paus, Musa menasihati umat Israel agar mengingat semua yang telah Tuhan lakukan untuk mereka di sepanjang jalan. “Bahaya hilang ingatan terhadap Tuhan” menyebabkan seseorang itu angkuh, mengingat kejayaan sendiri adalah kerana usaha sendiri.

Supaya maju, kita harus ingat, kita tidak harus “kehilangan sejarah: sejarah keselamatan, sejarah kehidupan saya, sejarah Yesus bersama saya.”

Sri Paus menegaskan, penyembahan berhala tidak hanya bererti “pergi ke kuil penyembahan berhala dan menyembah patung.” Penyembahan berhala adalah sikap hati, ketika kalian lebih suka melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan untuk diri sendiri, daripada Tuhan – justeru kerana kita telah melupakan Tuhan. Pada musim Pra-Paskah ini, baiklah kalau kita semua meminta rahmat mengingat, mengingat segala yang Tuhan lakukan dalam hidup saya: betapa Dia sangat mencintai saya, betapa Dia mencintai saya.

Dan baik juga kalau kita terus mengulangi nasihat Paulus kepada Timotius, murid kesayangannya: “Ingatlah Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati.”
Saya ulang: “Ingatlah Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang mati.” Ingatlah Yesus, Yesus yang telah menemani saya sampai sekarang, dan akan menemani saya sampai saat saya harus tampil di hadapan-Nya dalam kemuliaan. Semoga Tuhan memberi kita rahmat untuk mengingat,” ujar Sri Paus Fransiskus. — media Vatikan 

Total Comments:0

Name
Email
Comments