Remaja Filipina sedang dalam proses jadi Santo

Seorang remaja Filipina sedang dalam perjalanan menuju gelar sebagai orang kudus setelah Vatikan menyatakannya sebagai “Hamba Tuhan,” langkah pertama dalam proses panjang menuju kanonisasi.

Jun 13, 2019

MANILA: Seorang remaja Filipina sedang dalam perjalanan menuju gelar sebagai orang kudus setelah Vatikan menyatakannya sebagai “Hamba Tuhan,” langkah pertama dalam proses panjang menuju kanonisasi.

Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan telah memberi lampu hijau kepada keuskupan Cubao untuk melihat lebih ke dalam kehidupan Darwin Ramos yang meninggal tahun 2012 pada usia 17 tahun.

Deklarasi ini dibuat oleh Kardinal Angelo Becciu, Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus Vatikan, pada Maret, tapi baru diumumkan di Manila pekan lalu.

“Vatikan telah memberi kami sinyal untuk melihat lebih dalam kehidupannya, bagaimana ia menghidupkan imannya dan bagaimana ia memberikan kesaksian tentang Yesus yang sangat dekat dengannya,” kata Uskup Cubao Mgr Honao Ongtioco.

Uskup itu mengatakan deklarasi Vatikan juga mengingatkan umat Katolik bahwa, “kita diundang untuk memberikan kesaksian iman kita dengan cara yang konkret.”

Prelatus itu memulai proses beatifikasi Ramos atas permintaan Asosiasi Para Sahabat Ramos Darwin.

Proses untuk kesucian dimulai dengan pemeriksaan kehidupan seorang kandidat. Seseorang hanya dapat dibeatifikasi setelah memverifikasi mukjizat yang dikaitkan dengannya.

Langkah lain menuju kesucian adalah deklarasi sebagai Hamba Tuhan, Beato/Beata dan santo/santa.

Teman-teman Ramos memuji ketaatan imannya ketika ia berjuang melawan distrofi otot Duchenne, penyakit genetik yang ditandai oleh kelemahan otot.

“Darwin adalah contoh dari kekudusan. Menjadi anak jalanan, menderita miopati, dia sangat dekat dengan Kristus dalam penderitaan dan kegembiraannya,” kata Uskup Ongtioco.

Ramos lahir tahun 1994 di daerah kumuh Pasay City di pinggiran ibukota Filipina, Manila.

Pada usia 12, ia mengabdikan diri untuk membantu anak jalanan melalui yayasan “Tulay ng Kabataan” atau Jembatan Anak-Anak.

Setelah dia menemukan imannya, dia menerima sakramen baptisan, komuni pertama dan krisma pada tahun 2007.

Bahkan ketika kondisi fisiknya memburuk, Ramos menjadi inspirasi bagi staf dan anak-anak di yayasannya.

Uskup Ongtioco mengatakan, bocah itu mengembangkan “hubungan pribadi yang mendalam dengan Kristus,” meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan.--ucanews.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments