Sikap posesif ... masih adakah dalam diri kita?

Sikap posesif ... masih adakah dalam diri kita?

Feb 01, 2019

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA
KE EMPAT (C)
YEREMIA 1:4-5.17-19
1 KORINTUS 12:31-13:13
LUKAS 4:21-30

Injil Lukas yang akan kita dengar pada hari ini (Hari Minggu Biasa IV) adalah lanjutan injil Lukas yang telah kita dengarkan hari minggu lalu (minggu biasa III). Pada minggu lalu Lukas, menceritakan penampilan dan pengenalan diri Yesus di hadapan penduduk Nazaret.

Yesus mengakui diri-Nya sebagai tokoh Almasih yang digambarkan tugasnya oleh Yesaya. Hari ini diceritakan reaksi negatif penduduk nazaret terhadap Yesus. marilah kita mencoba menangkap apa yang ingin disampaikan Lukas tentang bagaimana sikap kita terhadap Yesus. Penduduk Yesus dizaman Yesus dahulu belum merupakan orang kristiani, sedangkan kita sekarang sudah dibaptis menjadi murid Yesus Kristus sebagai umat Kristiani.

Apa yang dilakukan Yesus sebagai Almasih, seperti “menolong orang miskin, menyembuhkan orang buta, membebaskan orang tawanan dan tertindas”, — semua perbuatan Yesus yang dilihat sebagai mukjizat itu tidak diselenggarakan- Nya di Nazaret.

Orang-orang di Nazaret hairan mengapa tidak dilakukan juga di Nazaret tempat asal dan tinggal- Nya. Menghadapi keadaan itu Yesus berkata, “ sungguh tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnnya”. Kuasa dan kemampuan-Nya untuk mengadakan mukjizat tidak dilakukanNya di kalangan sesama penduduk Nazaret, tetapi di daerah sekitarnya.

Sebagai contoh Ia menyebut Nabi Elia dan Nabi Elisa. Mereka melakukan yang sama, mereka itu bukan menolong orangorang Israel bangsanya sendiri, tetapi orang-orang asing; seorang janda dari Sarfat-Sidon dan Naaman dari Siria, kedua-duanya di luar daerah Israel? Mengapa?

Seperti dialami oleh Nabi Elia dan Nabi Elisa, Yesus sebagai nabi mengalami sendiri, bahawa apa yang dikatakan atau ajarkan tidak diterima oleh orang-orang Nazaret, sebab tidak disertai bukti mukjizat sebagai tanda kehebatan dan kebesaran- Nya, yang telah diperlihatkan- Nya di Kaparnaum.

Apalagi Yesus adalah orang biasa, tidak lebih dari anak Yusuf, seorang tukang kayu, termasuk golongan kelas rendah dalam masyarakat. Bagaimna mungkin kata-kata orang semacam itu dapat diterima. Yesus ditolak!

Dari segi lain, dan inilah rupanya yang ingin disampaikan olkeh Lukas kepada para pembaca injilnya, Yesus tidak dapat menyelenggarakan perbuatan dan karya-Nya yang agung apabila Dia mengahdapi orang-orang yang sikap dirinya tertutup, curiga serta tidak percaya kepada-Nya.

Bila orang-orang siapapun berkumpul dan bersama-sama tidak mahu menerima, memahami dan menolak pandangan atau tawaran pendapat orang lain, maka mereka ini hanya mahu memegang pandangannya sendiri dan menolak tawaran kehendak baik dan kasih orang lain. —bukankah keadaan dan sikap seperti itu juga pernah bahkan kerap kali kita alami sendiri?

Bukankah situasi semacam ini sekarangpun merupakan situasi, suasana dan iklim masyarakat kita, di mana setiap pihak berpegang teguh pada pendiriannya sendiri, tertutup dan saling terbuka untuk menerima pandangan yang lain, bahkan disertai praduga dan kecurigaan? Bukankah situasi semacam itu pun selalu berlaku dalam lingkungan keluarga atau komunitikomuniti kita?

Orang-orang di Nazaret tidak mahu meninggalkan sikap posesif, atau sikap “hanya akulah yang benar” terhadap Yesus. Kerana itu ketika Yesus menunjukkan apa yang dilakukan oleh Nabi Elia dan Nabi Elisa, “sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu“ dan mengusir Dia, bahkan mahu membunuh- Nya. Yesus dikritik habishabisan padahal Dia mahu mengajak setiap orang membuka hati kepada orang-orang kecil. Kejujuran dan keterbukaan hati- Nya membawa perlawanan, yang membawa-Nya mati di salib!

Injil hari ini menunjukkan kepada kita, bahawa memiliki suatu pandangan dan sikap hidup yang universal atau luas dan menyeluruh tidaklah mudah! Yesus ditolak kerana menunjukkan kejiwaan-Nya yang besar dan kemurahan hati- Nya, khususnya kepada orang orang pinggiran. Berhadapan dengan Yesus yang berjiwa besar, murah hati dan berpandangan luas itu, kita mengakui bahawa kita sendiri yang berjiwa egois, iri hati, kering dan keras hati. Bagaimana kita dapat mengakui sungguh-sungguh kebaikan dan kesucian Yesus, kalau kita sendiri tidak mampu mengakui kelemahan diri kita sendiri.

Seperti dialami dan dimiliki oleh orangorang Nazaret, kita sering kurang sedar bahawa kita memiliki kebutaan hati. Salah satu ciri kebutaan hati ialah sikap posesif, nafsu memiliki, memiliki secara mutlak hanya untuk diri sendiri Kita semua juga dipanggil menjadi nabi seperti Elia, Elisa, terutama seperti Yesus sendiri. Ciri nabi yang sejati ialah tahu dan mahu mengatasi batas-batas pandangan dan kepentingan diri sendiri dan tidak merendahkan martabat orang sesama kita. — Msgr. F.X. Hadisumarta O.Carm., imankatolik. or.id

Total Comments:0

Name
Email
Comments