Tabah seperti Maria yang berdiri di bawah kaki Salib

Tabah seperti Maria yang berdiri di bawah kaki Salib

Feb 01, 2019

KOTA PANAMA: Jalan Salib adalah salah satu tradisi WYD yang paling indah dan emosional. Dengan men yatukan budaya, spiritualiti, dan drama devosional, Jalan Salib (Via Crucis) selalu menjadi salah satu peristiwa WYD yang paling berkesan dan menyentuh perasaan.

Bagi mereka yang pernah menyertai WYD di Australia khususnya, Perhentian Keduabelas, tempat Penyaliban terjadi saat matahari terbenam dengan latar belakang Jambatan Sydney Harbour. Atau tahun 2013 di Brazil, di mana adegan-adegan yang menampilkan penderitaan dan kematian Kristus dikembangkan dalam serangkaian tablo yang hidup sepanjang Pantai Copacabana di Rio de Janeiro.

Via Crucis di Panama 2019 memberi penghormatan kepada Sri Paus yang memulai tradisi WYD 34 tahun yang lalu. 14 Perhentian berdasarkan gubahan Santo Yohanes Paulus II untuk latihan spiritual yang dikhutbahkannya, ketika masih seorang Paderi hinggalah menjadi Sri Paus, Karol Wojtyla dikenali dengan orang yang berdoa Jalan Salib setiap hari.

Setiap Stasi berisi renungan tentang tema berkaitan realiti kaum muda, bersama Gereja Para Martir: kaum miskin, panggilan, ekumene, masyarakat adat, ekologi, pelarian, kaum migran, harapan, keganasan terhadap perempuan, hak asasi manusia, rasuah, terorisme dan aborsi.

Franssikus tidak memberikan homili dengan cara sebaliknya memilih berbicara langsung dengan Tuhan. Prelatus itu memulai emulai dengan mengatakan “Tuhan, Bapa belas kasih,” dan selanjutnya mengatakan, “Jalan Yesus menuju Kalvari adalah jalan penderitaan dan kesunyian yang berlanjutan pada zaman kita sekarang. Kami juga telah gagal bertindak. Betapa mudahnya jatuh dalam buli, penderaan dan mengjek orang lain,” kata Sri Paus. “Bapa, hari ini jalan salib Putera-Mu berlanjut.”

Sri Paus kemudian memberikan contoh bagaimana penderitaan Yesus berlanjut, dan itu tercermin dalam wajah begitu ramai orang yang menderita di dunia saat ini: dalam bayi yang belum lahir, anak-anak kurang mampu, kaum perempuan yang diperlakukan dengan tidak adil, orang muda yang menganggur, pemuda yang menganggur, orang tua yang ditinggalkan, masyarakat adat yang diabaikan, semua orang yang dieksploitasi, dibungkam, dihina, tidak diterima, dibuang, diperdagangkan — mereka tidak hanya kehilangan masa hadapan, tetapi juga masa kini.

Sri Paus lalu mengatakan “Jalan salib Putera-Mu berkepanjangan dalam masyarakat yang kehilangan kemampuan untuk menangis dan tergerak oleh penderitaan.”

“Mari kita lihat Maria, wanita yang kuat,” kata Sangti Papa. Daripada Maria, mari kita belajar bagaimana “berdiri di bawah salib, dengan ketabahan hati dan keberanian.” Dalam Maria, kita belajar mengatakan “Ya”. Ya, “untuk mereka yang berdiam diri dalam melihat penganiayaan dan penghinaan; Ya, “untuk kesabaran” orang-orang yang “siap bermula semula pada ketika segala-galanya nampak gagal.”

Daripada Maria kita belajar untuk berdiri di bawah Salib dengan hati yang merasakan “kelembutan dan devosi, yang menunjukkan belas kasihan dan menghormati, peka serta memahami orang lain.”

“Tuhan, ajarilah kami untuk berdiri di kaki setiap salib. Bukalah mata dan hati kami, selamatkanlah kami dari kelumpuhan dan ketidakpastian, dari rasa takut dan putus asa. Amin. Demikian doa penutup daripada Sri Paus Fransiskus. — CNS

Total Comments:0

Name
Email
Comments