Takhta Suci mengecam segala bentuk kekerasan terhadap agama

Takhta Suci sekali lagi mengecam kekerasan terhadap agama atau kepercayaan dan segala bentuk “populisme dan nasionalisme” yang menganggap migran dan pelarian sebagai “orang lain” dan “musuh”.

Nov 20, 2020

Takhta Suci sekali lagi mengecam kekerasan terhadap agama atau kepercayaan dan segala bentuk “populisme dan nasionalisme” yang menganggap migran dan pelarian sebagai “orang lain” dan “musuh”.

Dalam pidatonya pada forum Ministerial to Advance Religious Freedom baru-baru ini, Uskup Agung Paul Richard Gallagher, Setiausaha Vatikan untuk Hubungan Luar Negeri menekankan “perlunya dialog antara agama dan antara budaya untuk menumbuhkan saling pengertian dan rasa hormat.”

Forum tahunan yang didanai oleh Jabatan  Luar Negeri AS mempertemukan para pemimpin dari seluruh dunia untuk membincangkan cabaran yang dihadapi dalam kebebasan beragama.

Disebabkan pandemik,  pertemuan tahun diselenggarakan oleh Polandia secara online.

Dalam pidatonya, Uskup Agung Gallagher mendesak pihak berkuasa sivil agar “mengingati dan menghormati hak dasar kebebasan beragama bagi semua,” yang berakar pada “dimensi batin peribadi manusia.”

“Semua pemerintah harus menerima dialog terbuka dengan para pemimpin dari semua latar belakang agama… untuk melindungi, mendorong dan menerapkan kebebasan beragama atau berkeyakinan… dan tidak memanipulasinya sebagai alat politik,” kata pegawai Vatikan itu.

Beliau mengatakan dialog se harusnya tidak berhenti pada “toleransi belaka” tetapi harus lebih jauh agar tidak menganggap orang lain sebagai musuh tetapi sebagai “saudara dan saudari, yang setara dengan martabat kita.”

Uskup Agung Gallagher mengatakan bahawa pembatasan yang diberlakukan oleh negara semasa  pandemik “memiliki akibat besar pada kebebasan untuk mewujudkan agama atau keyakinan seseorang dan telah membatasi aktiviti keagamaan, pendidikan, dan karya amal komuniti agama.”

Prelatus itu mengatakan, pihak berkuasa sivil harus menyedari kesan buruk dalam mengenakan sekatan  terhadap komuniti agama atau kepercayaan, seraya menegaskan bahawa komuniti  memainkan peranan penting dalam mengatasi krisis dengan sokongan moral mereka dan pesan solidariti  serta harapan mereka.

Di negara-negara Katolik, uskup agung itu mengatakan akses untuk mendapatkan Sakramen adalah “layanan penting.”

“Kebebasan beribadat tidak bergantung pada kebebasan berkumpul, tetapi merupakan bahagian penting dari kebebasan beragama,” katanya. “Pada masa kita berusaha melindungi nyawa dari penyebaran virus, kita tidak boleh menempatkan dimensi spiritual dan moral orang tersebut sebagai hal sekunder dibandingkan keberadaan duniawinya,” tambah pegawai Takha Suci itu.

Uskup Agung itu mengutip ensiklik terbaharu Sri Paus Fransiskus “Fratelli tutti” di mana Sri Paus mengatakan bahawa “kebebasan beragama bagi semua pemeluk agama” adalah hak asasi manusia yang “tidak boleh dilupakan dalam perjalanan menuju persaudaraan dan perdamaian.” — LiCASnews.com 

Total Comments:0

Name
Email
Comments