Tujuh Uskup matir takluki keganasan dengan cinta Tuhan

Pesan dan kesaksian para uskup martir Romania adalah sebuah pengingat bahawa orang-orang Kristian dipanggil untuk berdiri teguh melawan ideologi yang cuba membunuh budaya dan agama mereka, kata Sri Paus Fransiskus.

Jun 13, 2019

BUCHAREST: Pesan dan kesaksian para uskup martir Romania adalah sebuah pengingat bahawa orang-orang Kristian dipanggil untuk berdiri teguh melawan ideologi yang cuba membunuh budaya dan agama mereka, kata Sri Paus Fransiskus.

Pada akhir kunjungannya ke Romania, Sri Paus merayakan Liturgi pada 2 Jun di mana tujuh uskup Katolik ritus Timur, yang meninggal semasa kempen anti agama yang dilakukan oleh rejim komunis di Romania, dibeatifikasi.

“Para gembala ini, para martir untuk iman, dan menyerahkan kepada orang-orang Romania dengan warisan berharga yang dapat kita simpulkan dalam dua kata: kebebasan dan belas kasihan,” kata Sri Paus. Bagi umat Katolik ritus Timur di Romania, dataran yang terletak di tanah Seminari Teologi Katolik Yunani Blaj itu merupakan simbol kebanggaan dan kesedihan negara itu.

Semasa peringatan 100 tahun revolusi nasionalis Romania di dataran itu, rejim komunis sebelumnya membubarkan Gereja Katolik Romania ritus Timur.

Tiga puluh tahun setelah jatuhnya komunisme, matahari bersinar terang dan nyanyiannyanyian menggema di dataran itu yang dahulunya merupakan masa-masa tergelap Gereja Katolik Timur.

Para uskup itu: Uskup Suciu; Uskup Auksilier Fagaran dan Alba Iulia Msgr Vasile Aftenie; Uskup Oradea Mare, Msgr Valeriu Traian Frentiu; Uskup Auksilier Tit Liviu Chinezu dari Fagaras dan Alba Iulia; Uskup Lugoj, Msgr Ioan Balan; Uskup Maramures Mgr Alexandru Rusu, dan Uskup Gherla Msgr Iuliu Hossu, yang telah dilantik sebagai kardinal oleh St. Paulus VI “in pectore” atau di dalam hatinya, menahan publikasi namanya sampai tahun 1973.

Dalam homilinya, Sri Paus mengenang penderitaan umat Katolik ritus Timur yang dipaksa untuk “bertahan dalam cara berfikir dan bertindak yang menunjukkan penghinaan terhadap orang lain dan menyebabkan pengusiran dan pembunuhan orang-orang yang tidak berdaya dan membungkam suara-suara yang berbeza pendapat.

“Para uskup martir meninggalkan “warisan spiritual” bagi generasi mendatang yang ditunjukkan oleh “iman dan cinta bagi umat mereka,” kata Bapa Suci.

Iman mereka, tambahnya, hanya ditandingi oleh kesediaan mereka untuk menderita kemartiran “tanpa menunjukkan kebencian terhadap para penganiaya mereka dan menghadapi penganiayaan dengan kelembutan yang luar biasa.”

“Belas kasihan yang ditunjukkan mereka kepada para penyeksa mereka adalah pesan kenabian, kerana itu mengundang semua orang hari ini untuk menakluki kemarahan dan kebencian dengan cinta dan pengampunan, dan menjalankan iman Kristian dengan konsistensi dan keberanian,” kata Sri Paus. -- media Vatikan

Total Comments:0

Name
Email
Comments