Agama, kunci membangun damai, persefahaman dunia

Dalam ucapannya semasa Kongres Para Pemimpin Dunia dan Agama-agama Tradisional kali ke tujuh di Nur-Sultan, Kazakhstan, Sri Paus Fransiskus menekankan bahawa agama-agama perlu bertumbuh dalam persahabatan bagi menyahut kehausan akan perdamaian dunia dan ketidakterbatasan yang bersemayam dalam hati kita masing-masing.

Sep 23, 2022

Para pemimpin antara agama berkumpul di Nur-Sultan.


NUR-SULTAN, Kazakhstan:
Dalam ucapannya semasa Kongres Para Pemimpin Dunia dan Agama-agama Tradisional kali ke tujuh di Nur-Sultan, Kazakhstan, Sri Paus Fransiskus menekankan bahawa agama-agama perlu bertumbuh dalam persahabatan bagi menyahut kehausan akan perdamaian dunia dan ketidakterbatasan yang bersemayam dalam hati kita masing-masing.

Sri Paus Fransiskus mengadakan kunjungan apostolik ke Kazakhstan pada September 13-15 lalu untuk menghadiri pertemuan pemimpin antara agama yang berlangsung setiap tiga tahun sekali serta memenuhi undangan presiden negara itu, Kassym-Jomart Tokayev.

Kongres antarabangsa itu kali ini memberi tumpuan mengenai bagaimana pemimpin agama dapat memupuk pembangunan rohani dan sosial dalam dunia pasca pandemik. Lebih 100 delegasi dari 50 negara menghadiri kongres tersebut.

Memulakan ucapannya, Bapa Suci Fransiskus mengatakan, “saudara dan saudari... atas nama persaudaraan yang menyatukan kita sebagai anak-anak Syurga yang sama.”

Prelatus itu mengatakan, “agama mengingatkan kita bahawa kita adalah makhluk, bukan yang maha kuasa...berjalan bersama ke syurga yang sama.”

Sifat bersama ini kemudian menciptakan secara alami “ikatan bersama, persaudaraan sejati,” kata Sri Paus Fransiskus sambil mengingati sejarah bagaimana Kazakhstan setelah menjadi tanah pertemuan yang melibatkan gagasan, kepercayaan, dan perdagangan.

Uskup Roma itu juga menyampaikan harapan agar perjumpaan agama-agama selalu didasarkan pada hubungan antara manusia yang ditandai dengan “penghormatan, dialog yang tulus, penghormatan terhadap martabat manusia yang tidak boleh dicabuli serta semangat kerjasama.”

Bapa Suci mengingatkan bahawa fundamentalisme “menodai dan membinasakan keharmonian” dan bahawa kita harus memiliki “hati yang terbuka dan penuh kasih.” “Berusaha mengejar transendensi dan nilai sakral persaudaraan dapat mengilhami dan menerangi keputusan yang perlu dibuat di tengah-tengah krisis geopolitik, sosial, ekonomi, ekologi, tetapi pada dasarnya krisis rohani yang dialami oleh banyak institusi moden, termasuk demokrasi, masa ini, merosakkan keamanan dan kerukunan antara bangsa.

“Sesungguhnya, kita memerlukan agama, untuk mewujudkan damai di dunia.” Sri Paus Fransiskus kemudiannya menyatakan kepentingan kebebasan beragama sebagai “syarat penting untuk pembangunan manusia dan integral yang sejati.

Setiap orang mempunyai hak untuk memberikan kesaksian umum akan kepercayaannya sendiri, tanpa dipaksa melalui menukar agama secara paksa atau atau indoktrinasi. Satu lagi aspek penting yang disentuh oleh Bapa Suci dalam kongres ini “merawat rumah kita bersama,” di mana beliau menyeru semua pemimpin agama untuk melindungi alam ciptaan Tuhan dari kerosakan disebabkan pencemaran, polusi, eksploitasi, dan kehancuran.

Sebagai penutup, Sri Paus Fransiskus mendorong semua orang untuk “maju bersama, sehingga perjalanan agama-agama dapat semakin ditandai dengan persahabatan.” -- media Vatikan

Total Comments:0

Name
Email
Comments