Berkuasa bukan memeras tetapi melayani

Dalam setiap bentuk hidup bersama antara manusia, dari keluarga, komuniti, masyarakat sehinggalah negara, demi ketenangan, kelancaran, kebersamaan dan perdamaian diperlukan suatu bentuk pimpinan, yang mengatur kerjasama antara warganya.

Oct 16, 2021


HARI MINGGU BIASA KE-29 TAHUN B

Yesaya 53:10-11
Ibrani 4:14-16 injil markus 10:35-45

Dalam setiap bentuk hidup bersama antara manusia, dari keluarga, komuniti, masyarakat sehinggalah negara, demi ketenangan, kelancaran, kebersamaan dan perdamaian diperlukan suatu bentuk pimpinan, yang mengatur kerjasama antara warganya.

Ada bentuk pimpinan yang bersifat autoritarianisme, diktator dan demokratik. Untuk suatu keluarga ada sikap seorang ketua yang paternalistik atau maternalistik. Ada pula yang tegas, tetapi ada juga yang lembut dan penuh kasih.

Ketiga - tiga pembacaan Kitab Suci pada Hari Minggu ini memperlihatkan kepada kita, bagaimana kita sebagai sesama makhluk harus bersikap, hidup dan berbuat satu terhadap yang lain, khususnya mengenai kekuasaan. Terutama di dalam surat kepada orang Ibrani (Bac.II) dan Injil Markus, Yesus menunjukkan bahawa sikap dan perbuatan kita terhadap sesama bukanlah berupa menguasai, melainkan melayani. “Sesiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu!” (Mrk 10:43).

Betapa indah isi petikan Surat kepada orang Ibrani tentang Yesus sebagai Imam Agung. Ditegaskan bahawa kita tidak memiliki seorang Imam Agung yang tidak turut merasakan kelemahankelemahan kita.

Sebaliknya Dia sungguh sama dengan kita. Dia dicubai, mengalami cabaran luar biasa, namun tidak berdosa.

Dia rela menanggung penghinaan dan penderitaan, bahkan mati di salib. Semua itu hanya bertujuan untuk menyelamatkan kita. Dia memasuki nasib kita, agar kita bersama Dia dapat diangkat kembali menjadi ahli waris syurgawi. Sudah sampai tiga kali dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus mengatakan kepada muridmurid-Nya, bahawa Dia akan menderita dan selanjutnya akan mati dalam melaksanakan tugas-Nya sebagai Al-Masih. Namun sebagai manusia, murid-murid-Nya mereka tidak memahami apa yang ditegaskan oleh Yesus. Bahkan dua murid-Nya, Yakobus dan Yohanes meminta kedudukan terhormat di sampingNya. Latar belakang pandangan dan cara berfikir mereka tentang Kerajaan Tuhan, sangat bersifat duniawi: materialistik dan egoistik. Padahal Kerajaan yang akan dibangun Yesus bukan seperti itu, ia tidak seperti yang difikirkan oleh Yakobus dan Yohanes dan mungkin juga merupakan fikiran atau gambaran kita! Mereka merindukan dan menginginkan kedudukan mulia, terhormat, berkuasa. Dalam Injil hari ini Yesus menerangkan apa sebenarnya yang disebut berkuasa atau memiliki kuasa dalam kerajaan Tuhan. Lazimnya, orang berpendirian, bahawa berkuasa bererti memiliki kekuatan untuk menguasai dan memaksa orang lain melakukan kehendaknya atau melayaninya. Orang lain diperintah sebagai hamba atau dipaksa sehingga martabatnya sebagai manusia tidak dihormati. Menghadapi sikap orang seperti ini, Yesus berkata: “Tetapi janganlah kamu berbuat demikian di antara kamu. Sesiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah dia menjadi pelayanmu” (Mrk 10: 43). Yesus ingin menerangkan apa sebenarnya yang disebut 'kuasa' dalam Kerajaan Tuhan. Berkuasa di dalam Kerajaan Tuhan bukan bererti memiliki kekuatan untuk menguasai dan mengalahkan orang lain untuk kepentingannya sendiri.

Berkuasa di dalam Tuhan bererti memiliki kemampuan dan kesediaan untuk memberikan dan membangun kekuatan bagi orang lain. Bukan memanfaatkan bahkan memeras daya dan kemampuan hidup sesama kita, tetapi sebaliknya menghidupkan dan menambahkan daya hidup sesama kita yang berkekurangan, supaya dapat hidup damai sejahtera.

Berkuasa bererti memiliki dan menggunakan kemampuan diri untuk ikut memberikan sumber hidup kepada orang lain.

Kita semua ini sebagai orang Kristian telah menerima daya hidup yang berlimpah dari Yesus Penyelamat kita.

Seperti para rasul dahulu, sekarang pun kita sebagai murid-murid Yesus juga terpanggil memiliki dan melaksanakan kuasa-Nya itu. Kita terpanggil ikut “berkuasa”, iaitu ikut memberikan daya hidup kepada sesama kita, secara rela dan tanpa syarat, bukan dengan perhitungan.

Nah, kuasa ini dapat kita lihat dan kita pahami maknanya serta kita hayati dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi kita menemukan pelaksanaan kuasa sejati yang asli dan murni.

Menerima Ekaristi bukanlah menerima kuasa untuk melemahkan dan merosakkan daya hidup orang lain, sebaliknya untuk menguatkan dan membangun daya hidupnya.

Dalam Ekaristi, Yesus yang memiliki kuasa ilahi sepenuhnya merendahkan diri menjadi makanan sebagai sumber hidup kita yang berlimpah. Dalam Ekaristi, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa kerendahan hati dan kesediaan melayani keperluan orang lain merupakan perwujudan kebesaran dan kemuliaan kasih sejati dalam Kerajaan Tuhan.

Demikianlah pesan Injil hari ini kepada kita: berkuasa bukan bererti memerintah, melainkan melayani. Kita menerima Yesus dalam Ekaristi bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri, melainkan justru agar kita makin rela melayani sesama kita. — Msgr. F.X. Hadisumarta O.Carm, imankatolik.org

Total Comments:0

Name
Email
Comments