Krisis iklim: Para Sister Katolik desak ganti rugi

Ketika konferensi iklim PBB hampir berakhir pada bulan lalu, Uni Eropa (UE) mengusulkan solusi potensial untuk masalah dana ganti kerugian dan kerosakan yang sedang berlangsung, di mana beberapa negara akan memberikan kompensasi kepada negara-negara yang terkesan teruk akibat perubahan iklim.

Dec 02, 2022

Ternakan mati dan tanah kering akibat kemarau berpanjangan akibat krisis iklim di sebuah perkampungan desa di Tanzania, Afrika. (Gambar: ucanews.com)


SHARM EL-SHEIHK, Mesir:
Ketika konferensi iklim PBB hampir berakhir pada bulan lalu, Uni Eropa (UE) mengusulkan solusi potensial untuk masalah dana ganti kerugian dan kerosakan yang sedang berlangsung, di mana beberapa negara akan memberikan kompensasi kepada negara-negara yang terkesan teruk akibat perubahan iklim.

Proposal UE, diajukan pada Nov 18, yang menyarankan agar bayaran ganti rugi dibayar oleh negara yang menyumbang besar kepada perubahan iklim. Dana itu berasal dari negara-negara berekonomi baik dengan polusi tinggi seperti China, bukan hanya dari negaranegara kaya yang secara historis penyumbang paling besar terhadap pemanasan global.

Reuters menambah kesepakatan di konferensi iklim PBB harus dilakukan dengan sokongan dari hampir 200 negara yang terlibat.

Para Sister Katolik termasuk di antara ribuan aktivis yang mendorong para pemimpin dunia untuk berkomitmen mengurangi emisi dan mendesak negaranegara yang terlibat untuk membayar kerugian dan kerosakan akibat perubahan iklim di Dunia Selatan.

“Mari kita bertindak sekarang atau tidak sama sekali. Tidak perlu berbincang lagi kerana kita sudah nampak situasi yang semakin getir sekarang,” kata Sr Durstyne Farnan, seorang Sister dari Kongregasi Dominikan Adrian dari Michigan.

“Para pemimpin dunia harus segera menyepakati cara memerangi perubahan iklim untuk menyelamatkan planet ini dari kerosakan,” katanya, seraya mengatakan bagi “negara-negara kaya seperti Amerika Syarikat” agar berusaha “mencari cara bekerja dengan mitra lain di dunia, terutama pulau-pulau kecil yang sedang menghilang atau hanyut dari laut.”

Sr Farnan, yang berpartisipasi dalam demonstrasi jalanan di COP27, mengatakan tidak adil bagi negara-negara kaya untuk gagal mengimplementasikan dana mitigasi iklim, dan mendanai perusahaan bahan bakar fosil.

“Sebagai religius, kami memiliki tanggung jawab untuk berbicara dan sekurangkurangnya hadir di acara COP27. Kami memiliki ramai Sister di Dunia Selatan, yang memberitahu kami apa yang terjadi di tanah air mereka — di mana terdapat kemarau panjang dan banjir, dan orang-orang kehilangan mata pencarian akibat perubahan iklim,” katanya kepada EarthBeat, sebuah projek alam sekitar Katolik yang berpusat di AS. Sr Paola Moggi, dari Kongregasi Misionari Comboni di mana kongregasinya memiliki rumah biara di 16 buah negeri di Afrika, mengatakan beliau kesal melihat agenda COP27 menjadi “isu panas” dan “permainan politik”.

“Saya melihat negosiasi sangat sukar di sini, dan kemajuan atau penambahbaikan sangat lambat kerana ada kepentingan, terutama kepentingan kewangan yang diutamakan,” kata Sr Moggi, mewakili VIVAT International, sebuah organisasi berbasis religius yang bekerja untuk membawa suara komuniti akar rumput ke peringkat yang lebih tinggi di PBB.

“Fokus khusus pada kewangan dan perdebatan tentang kerugian dan kerosakan dapat ditangani tidak hanya dari sudut pandang material tetapi juga dari sudut nonmaterial – iaitu kerosakan dari segi budaya dan spiritual.”

Sr Ernestine Lalao, mewakili Kongregasi St Perawan Maria Cinta Kasih Gembala Baik dari Madagascar, memohon kepada negara-negara kaya yang bertanggung jawab atas krisis iklim untuk bersimpati dengan negara-negara berkembang yang sangat terkesan akibat krisis iklim dan bersetuju memberikan kompensasi kepada mereka.

Katanya Madagascar adalah salah satu negara di dunia yang paling terkesan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia, meskipun negara itu hanya menghasilkan sedikit emisi gas rumah kaca. Sr Ernestine menjelaskan bahawa negara itu telah mengalami kelaparan, angin taufan, migrasi paksa dan hilangnya nyawa serta mata pencarian terjejas akibat kesan perubahan iklim.

Menurut CDP, sebuah badan amal bukan kerajaan, Afrika menghasilkan kurang dari empat peratus emisi gas rumah kaca global. Sebaliknya, laporan tersebut menunjukkan China bertanggung jawab atas 23 peratus, AS bertanggung jawab atas 19 peratus dan Uni Eropa sebesar 13 peratus dari gas rumah kaca global.

“Setiap orang di planet ini memiliki tanggung jawab besar atas tantangan global yang besar ini dalam perang melawan perubahan iklim. Negara-negara berkembang benar-benar diajak untuk membantu dan menyokong negara-negara terbelakang seperti Madagascar, serta negara-negara yang menjadi korban akibat krisis iklim.” -- ucanews.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments