Memilih mengikuti Yesus kerana kebenaran

Ketika Yesus lahir di Betlehem, Injil Lukas memberitakan, bahawa malaikat mewartakan khabar gembira: “Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).

Aug 12, 2022

HARI MINGGU BIASA KE-20
TAHUN C
YEREMIA 38:4-6.8-10
IBRANI 12:1-4
INJIL LUKAS 12:49-53

Ketika Yesus lahir di Betlehem, Injil Lukas memberitakan, bahawa malaikat mewartakan khabar gembira: “Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14).

Tetapi Injil Lukas juga menulis ucapan Yesus ini: “Aku datang melemparkan api ke bumi… Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan!

Hari ini kata-kata tentang Yesus dan ucapan-ucapan-Nya disampaikan juga kepada kita. Marilah kita mempersiapkan diri untuk mendengarkan sabda-Nya, agar kita makin siap pula menerima tubuh dan darah-Nya dalam Ekaristi dengan penuh harapan.

Sebagai manusia Yesus menyapa kita secara manusiawi juga. Sebagai Sang Pendidik yang sempurna Dia tahu cara terbaik untuk menampilkan diri serta untuk menyampaikan ajaran-Nya kepada semua orang yang mahu mendengarkan-Nya.

Kadang-kadang Yesus menyampaikan pesan atau ajaran-Nya dengan cara atau bahasa yang seolah-olah bertentangan. Salah satu contohnya ialah Injil Lukas hari ini.

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan kepada kita dalam Injil Lukas itu pada dasarnya ialah kita diajak dan diingatkan supaya kita hidup dengan selalu siap siaga dan bersedia. Bukan bersikap pasif, acuh tak acuh atau hanya mahu memilih yang mudah.

Yesus berkata, “Aku datang melemparkan api ke bumi.” Api yang bernyala-nyala adalah gambaran tentang terang yang jelas dan menarik perhatian.

Makna rohani adanya api Yesus itu ialah, bahawa kedatangan Yesus dengan ajaran-Nya merupakan sesuatu yang harus mendapat reaksi.

Sebagai umat yang dibaptis, kita tidak boleh bersikap acuh tak acuh terhadap kehadiran Yesus di dunia ini, di dalam masyarakat, di dalam komuniti, di dalam keluarga, yang bagaikan api yang menyala.

Misalnya para kudus yang secara rasmi dihormati oleh Gereja, mereka hidup, bersikap dan sungguh-sungguh meneladani Kristus, meskipun mereka tidak dikenali — mereka ini adalah orang-orang yang imannya menyala bagaikan nyala api kasih Yesus di dalam masyarakat.

Hati mereka ini tergerak oleh nyala api Yesus, dan terbakar olehnya. Dan mereka sendiri menjadi nyala api yang menerangi hati orang-orang sesamanya.

Kemudian Yesus berkata: “Aku harus menerima pembaptisan, dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung.

Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan damai, melainkan pertentangan! Apa sebenarnya yang dimaksudkan Yesus?”

Bersedia mengikuti Yesus bererti bersedia menempuh jalan hidup yang ditempuh-Nya juga!

Antara lain simbolik pembaptisan Yesus di sungai Yordan —Yesus dibaptis dengan air suci yang berupa darah-Nya sendiri!
Pembaptisan-Nya berpuncak pada kematian-Nya di salib! Gerak hidup, ajaran dan kesediaan-Nya menderita dan mati di salib — itulah sikap siap siaga dan bersedia yang dimaksudkan Yesus dengan kata- kata-Nya, “Aku datang melemparkan api ke bumi.”

Akhirnya apa erti ucapan Yesus yang berkata, “Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai melainkan pertentangan!”. Ertinya: Sesiapa ingin memilih Kristus, maka dia akan menghadapi dan berjuang melawan apa yang tidak dikehendaki Kristus.

Orang Kristian sejati harus tegas terhadap apa pun, bersikap benar dan menolak kepalsuan. Keputusan atau pilihan selalu menuntut suatu pemisahan.

Perpisahan ini dapat terjadi di mana pun, di dalam lingkungan apa pun. Perbezaan pendapat, pertentangan, bahkan permusuhan dapat terjadi juga dalam keluarga.

Mendengarkan sabda Kristus dan memilih mengikuti Dia adalah keputusan setiap peribadi.

Kristus tidak menghendaki adanya orang-orang yang mengambil keputusan dengan tidak sungguh-sungguh.

Misalnya memilih hanya demi kerukunan, hanya untuk menghindari pertengkaran satu sama lain, bukan demi kebenaran dan kesungguhan niat untuk mengikuti Kristus.

Demikianlah Injil Lukas hari ini mengajak kita untuk menjadi orang Kristian sejati, bukan hanya secara sekadarnya, hanya demi ketenteraman, demi hidup lebih nyaman, tetapi sebenarnya dengan demikian kita menjadi seorang peribadi yang tidak utuh, tidak berprinsip tegas, tidak berpendirian teguh. Hati kita dingin bahkan beku, bahkan tidak mudah terbakar.

Injil pada hari ini mengingatkan kita, agar kita sebagai orang Kristian yang sudah dibaptis, tanpa kekecualian, harus makin menyedari keberadaan kita sebagai murid Yesus sejati yang harus merasa diterangi dan dihangatkan, bahkan terbakar oleh kehadiran-Nya sebagai api yang menyala. Kita harus menjadi api yang menyala, agar dapat ikut menyalakan api Kristus dalam hati sesamanya kita. — Msgr FX. Hadisumarta O.Carm

Total Comments:0

Name
Email
Comments