Peperangan ... kita harus berbuat apa?

Dunia belum selesai dengan kebimbangan serta kesan pandemik virus corona, dikejutkan pula dengan konflik di Myanmar dan situasi perang antara Rusia dan Ukraine.

Jul 01, 2022


Dunia belum selesai dengan kebimbangan serta kesan pandemik virus corona, dikejutkan pula dengan konflik di Myanmar dan situasi perang antara Rusia dan Ukraine.

Ketika dunia dilanda pandemik, manusia semakin menyedari pentingnya kesihatan.

Begitu pula ketika perang terjadi, orang semakin sedar akan pentingnya perdamaian.

Kesihatan atau perdamaian memang bukanlah segala-galanya dalam kehidupan, namun tanpa kesihatan atau rasa damai, segala yang kita miliki terasa kurang nilainya.

Memikirkan situasi perang dan konflik yang berlaku di Myanmar dan Ukraine mungkin membuat kita berfikir sejenak, apa yang menjadi dasar penyebab, apa akibat yang timbul dan apa yang dapat saya lakukan.

Perang terjadi ketika sudah ada serangan ketenteraan. Sebelum itu pasti telah terjadi konflik, yang disebabkan adanya perbezaan pendapat di antara kedua-dua belah pihak.

Konflik yang dibakar keegoisan tidak dapat menemui penyelesaian. Ia seharusnya memerlukan keterbukaan, kerendahan hati untuk menyelesaikan konflik.

Tidak ada yang diuntungkan dari konflik, apalagi perang. Yang terjadi hanyalah dua rasa: marah dan sedih.

Pihak yang menyerang semakin marah, pihak yang diserang semakin sedih dan juga menjadi marah. Kematian, kehilangan masa depan, kehancuran, semuanya tidak kita inginkan.

Apa yang dapat saya lakukan? Bagaimana saya dapat memberi sokongan solidariti terhadap perkara ini?

Mulai dari Diri Sendiri
Memikirkan situasi perang di Ukraine, Myanmar dan tempat-tempat lain di dunia ini, mungkin terlalu jauh bagi kita untuk menyumbang sesuatu mewujudkan perdamaian.

Namun dari perang yang terjadi saat ini, baiklah kita bertanya pada diri sendiri. Sudahkah damai ada di hati saya?

Apakah ada “peperangan” antara saya dan seseorang di sekitar saya? Barangkali masih ada suatu “perang dingin” antara saya dan saudara saya yang menyebabkan hilangnya komunikasi.

Sebelum memikirkan terlalu jauh soal perdamaian seluruh dunia, kita boleh memulainya dengan diri sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri juga merupakan tantangan besar dalam hidup.

Keikhlasan menerima masa lalu, memaafkan diri sendiri merupakan usaha yang dapat dilakukan untuk berdamai dengan diri sendiri.

Mulailah membuka diri terhadap setiap perbedaan yang terjadi. Berlatih untuk menganggap perbezaan sebagai suatu keindahan dan kekayaan, bukan sumber konflik. Mulailah menyapa sesama, berikan suatu perhatian kecil.
Mari kita berdamai dengan diri sendiri, dengan orang-orang di sekitar.

Perdamaian memang bukan segalanya. Tetapi tanpa perdamaian, kita boleh kehilangan segalanya.
Sertai dan promosi aksi doa Sri Paus

Sri Paus sangat prihatin akan situasi-situasi tegang khususnya Ukraine, Myanmar, Timur Tengah, Afghanistan dan bahagian-bahagian lain di dunia ini.

Antara yang sering dilakukan oleh Sri Paus ialah menyelitkan doa dan harapannya setiap kali memimpin Misa Kudus dan memimpin audiensi.

Prelatus itu juga menganjurkan Doa Rosari Sedunia dan Hari Puasa dan Doa sedunia yang mengajak umat bersolidariti dengan para mangsa peperangan.

Dari tempat kita, sangat digalakkan jika kita memasukkan doa damai kita untuk negara-negara yang sedang berkonflik dalam doa rosari dan harian kita. Di peringkat keluarga, KKD, pelayanan dan paroki, berusahalah untuk menganjurkan doa atau hari berpuasa bagi kedamaian dunia.

Dunia tidak akan berubah kalau perubahan itu tidak dimulai dari diri sendiri. — hidupkatolik.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments