Peranan Alkitab dalam agama kita

Sebagai buku, Kitab Suci mengantar kita pada Sabda Tuhan yang utama, iaitu Yesus Kristus.

Jan 21, 2022

Father, apakah sebenarnya peranan Alkitab dalam agama kita? Yang saya pernah dengar dari beberapa teman yang mendalaminya, Alkitab adalah “ubat” bagi umat Katolik, benarkah begitu? Sebenarnya apakah peranan dari Alkitab? — Anna

Jawaban: Sdri Anna yang dikasihi, saya berharap Anna sendiri juga sudah mulai membaca-baca Kitab Suci, sebab pertanyaan Anna menuntut pengalaman bergaul dengan Kitab Suci itu sendiri. Pergaulan akrab penuh kasih itulah yang memberi kita makna Alkitab sebenarnya dalam Gereja. Jadi pertama, mulailah saja dulu membaca.

Sebagai buku, Kitab Suci mengantar kita pada Sabda Tuhan yang utama, iaitu Yesus Kristus.

Pertama-tama kita akan mengalaminya ketika mem-baca Injil. Dengan membaca, mendengarkan dan merenungkannya kita berjumpa dengan-Nya secara peribadi. Ada orang bahagia ketika merenung petikan pembacaan hari tersebut, ada yang tersentuh dengan sikap Yesus pada pendengar-Nya. Ada juga yang terinspirasi oleh ketabahan Yesus dalam menghadapi sengsara dan wafat-Nya.

Ada yang disegarkan oleh perumpamaan yang disampaikan-Nya.

Alkitab juga memberi peluang untuk pertemuan dan mengakrabkan lagi hubungan keluarga atau KKD. Singkatnya Kitab Suci menjadi jalan masuk dalam misteri Yesus, sang Sabda Tuhan pengantar kita pada hidup kekal.

Seperti Injil, bahagian lain Perjanjian Baru juga memberi kesaksian akan Yesus, terutama yang direnungkan dan diwartakan Gereja awal.

Kisah Para Rasul yang mengisahkan perjalanan Rasul-rasul, terutama Petrus dan Paulus, sesudah kenaikan Yesus ke syurga.

Surat-surat Paulus, Ibrani, Yakobus, Yohanes, Petrus, menunjuk siapa Yesus itu dan bagaimana iman akan Yesus menghidupi jemaat. Ada banyak huraian iman tentang misteri Yesus, disertai nasihat, kadang-kadang menegur, kadang-kadang mencabar kita. Semuanya berpusat pada Yesus, Sabda yang telah menjadi manusia dan telah menyerahkan diri-Nya untuk keselamatan kita.

Begitu juga dengan Perjanjian Lama disebut sebagai persiapan bagi Perjanjian Baru. Setelah kisah penciptaan, kita dibimbing mengikuti sejarah bangsa Israel sebagai bangsa pilihan, bermula dari panggilan Abraham sehinggalah pengalaman pemulihan bangsa Israel dari pembuangan.

Iman mereka ini jatuh bangun, melalui dosa dan pertubatan, bagaikan disaring dan diuji, tetapi kalau ditelusuri dengan teliti, kita akan menemui kisah-kisah penting yang serasi dengan peristiwa keselamatan Perjanjian Baru.

Tuhan yang sama, yang bersabda, mengasihi umat-Nya dan melaksanakan karya keselamatannya. Semua kisah dalam Kitab Suci benar berlaku kerana Tuhan sendiri adalah pengarang utama Kitab Suci, yang dalam penyusunan juga memilih manusia dengan segenap keahliannya (bdk Dei Verbum (DV) 11).

Kitab Suci sebagai “ubat” sebagaimana disebut rakan-rakan Anna, adalah salah satu contoh “hasil” dari pengalaman yang membaca serta menghayati Kitab Suci. Seseorang itu dapat menemui jawaban permasalahan hidupnya, mungkin dari suatu ayat atau daripada Peribadi penuh kasih yang ditemuinya dalam Kitab Suci, iaitu Yesus, Jalan, Kebenaran dan Hidup yang menghantar kita pada Bapa mahakuasa. “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku, terang untuk menerangi jalanku” (Mzm. 119:105).

Gereja menyebut antara peranan penting Kitab Suci ialah sebagai sumber doa dan sumber kekuatan bagi Gereja.

Kitab Suci adalah sumber doa, kerana doa adalah berkomunikasi dengan Tuhan dan mendengarkan amanat-Nya (bdk. DV 25).

Kitab Suci sebagai sumber kekuatan, kerana dalam Kitab Suci, Bapa penuh cinta kasih menjumpai putrea-puteri-Nya dan berbicara dengan mereka. Dari sanalah umat mendapatkan kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani (DV 21). Siapa mencintai Kitab Suci sungguh-sungguh mempunyai jaminan untuk mengenal Yesus Kristus, Sabda Tuhan penyelamat kita. — Fr Gregorius Hertanto MSC, hidupkatolik.com

Total Comments:0

Name
Email
Comments