Tuhan mengubah penyesalan jadi misi dan penginjilan

“Marilah diperbaharui oleh perdamaian, pengampunan, dan luka-luka Yesus yang berbelas kasih. Marilah memohon rahmat untuk menjadi saksi-saksi belas kasihan.

Apr 16, 2021

ROMA, Itali: “Marilah diperbaharui oleh perdamaian, pengampunan, dan luka-luka Yesus yang berbelas kasih. Marilah memohon rahmat untuk menjadi saksi-saksi belas kasihan.

Hanya dengan cara ini, iman kita akan hidup dan hidup kita bersatu. Hanya dengan cara ini kita akan memberitakan Injil Tuhan, iaitu Injil belas kasih.” Itulah nasihat Sri Paus Fransiskus semasa menyampaikan homili Misa pada Minggu Kerahiman Ilahi, yang dirayakan hari Minggu kedua Paskah.

“Kerana, kalau cinta hanya tentang kita, iman menjadi gersang, mandul dan sentimental. Tanpa orang lain, iman menjadi sia-sia. Tanpa perbuatan belas kasih, iman mati,” kata Sri Paus semasa memimpin Misa di Gereja Santo Spirito di Sassia.

Gereja abad ke-16 yang berdekatan dengan Vatikan itu ditetapkan oleh Santo Sri Paus  Yohanes Paulus II tahun 1994 sebagai gereja rasmi Kerahiman Ilahi di Roma.

Sri Paus menjelaskan bagaimana Yesus yang bangkit membuat “kebangkitan” di kalangan para murid” dengan membangkitkan semangat mereka dan mengubah hidup mereka.

Dia lakukan ini dengan belas kasihan. “Setelah menerima belas kasihan itu, para pengikutNya juga menjadi berbelas kasih. Mereka menerima belas kasihan dari-Nya melalui tiga karunia yakni damai sejahtera, Roh Kudus, dan luka-luka-Nya.

Setelah kematian Yesus, para murid berkumpul di sebuah ruangan, mereka bersedih dan berasa kesal kerana menyangka Tuhan telah meninggalkan mereka. Tetapi Yesus datang dan menyapa mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!”

Sri Paus mengatakan Yesus “tidak membawa damai sejahtera  yang menghilangkan masalah di luar, namun menanamkan kepercayaan di dalam hati mereka. Damai sejahtera dari Yesus mengubah penyesalan menjadi misi.”

Damai sejahtera Yesus yang membangkitkan misi, lanjut Sri Paus. Para murid menyedari bahawa Tuhan tidak mencela atau merendahkan mereka sebaliknya mempercayai mereka. Dia mencintai kita lebih daripada kita mencintai diri kita sendiri.”

Selain itu, Yesus juga menunjukkan belas kasih dengan menganugerahkan Roh Kudus untuk pengampunan dosa-dosa. Dengan diri sendiri, kata Sri Paus, kita tidak dapat menghapus dosa dan kesalahan. “Hanya Tuhan yang mengambilnya, hanya Dia dengan belas kasihan-Nya yang dapat membuat kita keluar dari kedalaman kesengsaraan kita.”

Maka, “kita perlu membiarkan diri diampuni.” Dan inilah yang dilakukan para murid, kata  Sri Paus sambil merujuk kepada Kisah Para Rasul di mana setelah mereka menerima belas kasihan Tuhan, sebagai balasannya, mereka menjadi berbelas kasihan. Tidak seorang pun di antara mereka mendakwa memiliki harta benda peribadi. Mereka berkongsi apa sahaja yang mereka miliki.

Ketakutan mereka juga telah  dihilangkan dengan menyentuh luka-luka Tuhan sehingga  mereka tidak takut menyembuhkan lukaluka orang yang memerlukan. Sri Paus menyeru kepada semua umat, termasuklah mereka yang acuh tak acuh, “Setelah menerima belas kasih, marilah sekarang kita berbelas kasih.”  — media Vatikan

Total Comments:0

Name
Email
Comments